Peran Stres Oksidatif sebagai Mediator dalam Modulasi Regulasi Hormonal terhadap Aktivitas Fisik: Tinjauan Fisiologi dan Biokimia
Shellya Puti Sudesty, Sri Octa Handayani, Khorina Fatin Bilqis
DOI:
https://doi.org/10.23960/jkunila.v10i1.pp39-48
Abstract View: 0
Abstract
Aktivitas fisik memengaruhi homeostasis tubuh melalui interaksi kompleks antara respons neuroendokrin dan perubahan status redoks seluler. Meskipun hubungan antara aktivitas fisik dan regulasi hormonal telah banyak diteliti, peran stres oksidatif sebagai mediator dalam proses tersebut masih belum banyak disintesis secara integratif. Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis peran stres oksidatif sebagai mediator dalam hubungan antara aktivitas fisik dan regulasi hormonal dari perspektif fisiologi dan biokimia. Penelitian ini menggunakan metode integrative literature review dengan pendekatan sistematis berbasis PRISMA terhadap literatur yang dipublikasikan pada tahun 2019-2026 dan diperoleh dari basis data PubMed, Scopus, Web of Science, serta ScienceDirect. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis dan disintesis secara tematik-mekanistik berdasarkan keterkaitan antara aktivitas fisik, stres oksidatif, dan respons hormonal. Hasil sintesis menunjukkan bahwa aktivitas fisik mengaktivasi sumbu hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) serta memodulasi berbagai hormon, termasuk kortisol, insulin, growth hormone, dan testosteron. Secara bersamaan, aktivitas fisik meningkatkan produksi reactive oxygen species (ROS) yang memiliki peran dualistik. Pada kadar fisiologis, ROS berfungsi sebagai molekul pensinyalan dalam redox signaling yang mendukung adaptasi seluler dan efisiensi metabolik. Sebaliknya, pada kondisi produksi berlebih, ROS dapat memicu stres oksidatif yang berdampak negatif terhadap fungsi seluler dan regulasi hormonal. Aktivitas fisik dengan intensitas moderat terbukti meningkatkan kapasitas antioksidan endogen dan mendukung stabilitas homeostasis, sedangkan latihan dengan intensitas tinggi atau tanpa pemulihan yang adekuat berpotensi menyebabkan maladaptasi fisiologis. Dengan demikian, stres oksidatif berperan sebagai mediator biologis kunci yang menghubungkan aktivitas fisik dengan regulasi hormonal, sehingga pendekatan latihan berbasis keseimbangan redoks menjadi penting dalam optimalisasi adaptasi fisiologis.








