Konsumsi Minyak Jelantah dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan

Melia Megawati, Muhartono Muhartono

Abstract


Minyak goreng adalah minyak nabati yang biasa digunakan untuk memasak makanan sehari-hari karena kaya akan vitamin dan memberikan rasa gurih pada makanan. Minyak goreng yang digunakan berulang kali menjadi tidak layak pakai dikarenakan telah terjadi oksidasi asam lemak tak jenuh yang akan membentuk gugus peroksida yang biasa dikenal dengan radikal bebas. Berdasarkan Food and Agriculture Organization (FAO) konsumsi minyak nabati sebagai bahan pangan mencapai 19 Kg/kapita dengan prediksi peningkatan konsumsi minyak goreng sebesar 0,29 liter/kapita/tahun. Penggunaan minyak jelantah dalam waktu tertentu berdampak pada kesehatan akibat deposisi sel lemak yang terjadi di usus halus, pembuluh darah, jantung, dan hepar. Penggunaan minyak jelantah dapat merusak usus halus dengan terdapatnya abses kripta dan infiltrasi sel radang polimorfonuklear (PMN) pada bagian epitel, mukosa, submukosa sampai transmural usus halus. Pembuluh darah dapat mengalami kerusakan akibat penyumbatan pada lumen pembuluh darah yang mengakibatkan pembuluh darah mengecil akibat dari plak aterosklerotik. Aliran darah jantung menurun terjadilah iskemik miokardium kemudian terbentuklah nekrosis yang disebabkan oleh radikal bebas. Iskemik terjadi akibat otot-otot jantung kekurangan oksigen, terjadinya metabolisme anaerob semakin lama akan menyebabkan edema sel yang menyebabkan nekrosis pada sel otot jantung. Radikal bebas menyebabkan edem hati dengan merusak membran sel, retikulum endoplasma. Nekrosis di hepar terjadi dalam jangka waktu tertentu yang bersifat reversible dan irreversible. Minyak jelantah memiliki berbagai dampak pada kesehatan sehingga penggunaannya harus dihentikan.
Kata kunci: hepar, jantung, minyak jelantah, radikal bebas, usus halus

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.