Vitamin D sebagai Suplemen dalam Terapi Tuberkulosis Paru

Septilia Sugiarti, M. Ricky Ramadhian, Novita Carolia

Abstract


Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tahun 1992, World Health Organization (WHO) telah menyatakan tuberkulosis sebagai Global Emergency. Dalam laporan WHO tahun 2013 diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB, 450.000 orang yang menderita TB MDR dan 170.000 di antaranya meninggal dunia. Jumlah kasus TB paru terbanyak di wilayah Afrika 37%, wilayah Asia Tenggara 28%, dan wilayah Mediterania Timur 17%. Di Indonesia, prevalensi TB paru dikelompokkan berdasarkan tiga wilayah, yaitu wilayah Sumatera 33%, wilayah Jawa dan Bali 23%, serta wilayah Indonesia Bagian Timur 44%. Permasalahan tersebut membuat para ahli mencari berbagai upaya untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit TB paru, terlebih karena diiringi meningkatnya prevalensi TB Multiple Drugs Resistance (TB-MDR). Vitamin D yang dikenal bermanfaat untuk tulang ternyata memiliki fungsi sebagai imunomodulator, yaitu terlibat dalam aktivasi makrofag untuk melawan bakteri termasuk bakteri TB. Beberapa penelitian telah menemukan hubungan defisiensi vitamin D dengan peningkatan risiko terkena TB. Metabolit aktif vitamin D yaitu 1,25-dihidroksivitamin D dapat membantu makrofag menghambat pertumbuhan dari Mycobacterium tuberculosis melalui peningkatan cathelicidin, suatu peptida yang berfungsi sebagai antibiotik endogen. Penelitian sebelumnya menunjukkan suplementasi vitamin D berpengaruh signifikan pada pasien yang menerima terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) standar. Pengobatan suportif vitamin D yang menyertai terapi OAT selain dapat meningkatkan perbaikan klinis juga menjadi alternatif yang terjangkau untuk profilaksis di lingkungan yang berkontak dengan penderita secara langsung.
Kata kunci: Calcitriol, Cathelicidin, Terapi, Tuberkulosis, Vitamin D

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.