Sindrom Brugada

Nofia Dian Ardiani Sukamto, Muhammad Galih Irianto

Abstract


Sindrom brugada merupakan kelainan genetik yang diturunkan secara autosomal dominan dengan karakteristik adanya elevasi segmen ST pada sadapan prekordial kanan. Terdapat 12 gen yang berkaitan dengan sindrom brugada. Sindrom brugada merupakan penyebab kematian mendadak pada pasien tanpa kelainan struktur jantung. Prevalensi sindrom brugada di Asia lebih tinggi daripada di Amerika dan Eropa. Sindrom ini lebih banyak menyerang pria daripada wanita dengan rasio 8:1 terutama pada usia <40-45 tahun. Gejala yang timbul pada sindrom brugada biasanya terjadi pada saat istirahat atau tidur. Beberapa tanda dan gejala yang berhubungan dengan sindrom ini, yaitu sinkop, nocturnal agonal respiration, fibrilasi ventrikel atau kematian mendadak, palpitasi, nyeri dada, demam. Gambaran EKG pada sindrom brugada memilliki 3 tipe, yaitu tipe 1, tipe 2, dan tipe 3. Tipe 1 dengan elevasi segmen ST (coved type) ≥2 mm (0,2 mV) diikuti defleksi negatif gelombang T. Tipe 2 memiliki kriteria elevasi segmen ST yang tinggi disertai dengan gelombang T positif atau bifasik yang memberi gambaran seperti saddleback. Tipe 3 dengan elevasi segmen ST berbentuk coved type
atau saddleback type <1 mm dengan gelombang T positif. Implantable cardioverter-defibrillator (ICD) merupakan terapi lini pertama untuk pasien yang beresiko tinggi (sinkop tanpa episode prodormal, riwayat keluarga dengan kematian mendadak) dan pasien dengan gambaran EKG tipe 1 atau tipe 2. Pembuktian kasus kasus kematian mendadak yang melibatkan sistem kardiovaskular harus selalu melibatkan pemeriksaan penunjang untuk mengkonfirmasi penyebab kematian tersebut.
Kata kunci: EKG, Elevasi segmen ST, Kematian mendadak, Sindrom brugada

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.