Gas Hidrogen Sulfida (H2S): Potensi Ancaman Asfiksia pada Peternak

Natasya Hayatillah, Jhons Fatriyadi Suwandi

Abstract


Peternakan merupakan salah satu sektor agroindustri yang banyak terdapat di Indonesia. Dekomposisi limbah hasil ternak, terutama kotoran ternak diketahui dapat menimbulkan gas berbahaya, salah satunya adalah hidrogen sulfida (H2S). Selain mudah terbakar, meledak dan beracun, H2S merupakan gas yang dapat menimbulkan iritasi pada sistem pernapasan. Keluhan seperti batuk, napas cepat bahkan perdarahan paru dapat terjadi akibat inhalasi kadar rendah gas H2S. Pada konsentrasi yang tinggi yaitu lebih dari 1000 BDS gas H2S dapat menjadi asfiksian kimia. Gas H2S menimbulkan asfiksia dengan cara menghambat enzim sitokrom c oksidase. Penghambatan enzim ini akan menyebabkan terganggunya transpor oksigen dalam tubuh sehingga tubuh mengalami keadaan hipoksia yang berujung dengan kematian. Meskipun data kematian peternak akibat gas H2S di Indonesia belum diketahui, namun asfiksia akibat inhalasi gas tersebut pada pekerja peternakan telah terbukti di beberapa negara seperti Korea Selatan dan Amerika. Gas H2S dapat menjadi ancaman bagi peternak di Indonesia karena gas tersebut mudah terakumulasi pada udara di peternakan akibat berat molekulnya lebih berat dari udara, dan kondisi ventilasi peternakan di Indonesia yang masih kurang baik.
Kata kunci: asfiksia, gas H2S, hidrogen sulfide, peternak

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.