Amenore Sekunder pada Remaja dengan Tuberkulosis Terkonfirmasi Bakteriologis Disertai Marasmus dan Anemia: Laporan Kasus
Syabila Febrilia Nasyafa, Shinta Narewari
DOI:
https://doi.org/10.23960/jkunila.v10i1.pp261-267
Abstract View: 23
Abstract
Amenore sekunder pada remaja tidak selalu disebabkan oleh kelainan primer pada organ reproduksi, melainkan dapat menjadi manifestasi dari penyakit sistemik kronis. Tuberkulosis (TB) adalah infeksi kronis yang dapat menyebabkan gangguan nutrisi, anemia, dan inflamasi berkepanjangan yang berpotensi mengganggu aksis hipotalamus-pituitari-ovarium. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan amenore sekunder pada remaja dengan TB paru terkonfirmasi secara bakteriologis yang disertai gizi buruk tipe marasmus dan anemia. Seorang pasien perempuan berusia 17 tahun datang dengan keluhan tidak mengalami menstruasi sejak 10 bulan sebelum masuk rumah sakit (SMRS), dengan riwayat siklus menstruasi sebelumnya yang teratur. Keluhan ini awalnya disertai kelemahan, mual, dan muntah saat makan, lalu ditemukan anemia, peningkatan laju endap darah (LED), serta penurunan berat badan drastis dari 45 kg menjadi 28 kg dalam 6 bulan terakhir. Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) sputum menunjukkan MTB detected low dan rifampicin resistance not detected. Hasil ini didukung oleh kepositifan pada BTA sputum, tes Mantoux, dan LAM TB urine, serta gambaran infiltrat pada paru kanan pada foto toraks. Pasien kemudian didiagnosis mengalami TB paru terkonfirmasi secara bakteriologis, gizi buruk tipe marasmus, amenore sekunder, dan anemia. Tata laksana yang diberikan meliputi obat anti-tuberkulosis (OAT), terapi suportif, serta dukungan nutrisi. Pada kasus ini, amenore sekunder diduga kuat berkaitan dengan penurunan berat badan yang drastis, defisit nutrisi, dan inflamasi kronis akibat infeksi tuberkulosis. Sebagai simpulan, evaluasi sistemik penting pada remaja dengan amenore sekunder, terutama bila disertai penurunan berat badan, anemia, dan tanda penyakit kronis lainnya.








