Exanthematous Drug Eruption pada Pria Usia 45 Tahun

Soraya Rahmanisa, Hani Zahiyyah Suarsyaf

Abstract


Exanthematous Drug Eruption merupakan penyakit kulit yang diinduksi obat dengan karakteristik makula eritem dan papul, multipel, menyebar luas dan cepat, serta konfluens. Etiologi dari Exanthematous Drug Eruption diantaranya penicillin, chephalosorin, golongan antibiotik sulfonamid, atau antikonvulsan. Seorang pria berusia 45 tahun datang ke Poliklinik Rumah Sakit (PRS) Bhayangkara (RSB) dengan keluhan bintik-bintik kemerahan di kepala, dada, punggung, perut, tangan dan kaki sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan disertai rasa gatal di seluruh tubuh. Pasien memiliki riwayat mengonsumsi obat antibiotik yaitu Thiamphenicol 5 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran komposmentis, pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Pada regio kapitis, regio toraks anterior, regio toraks posterior, regio abdomen regio ekstrimitas superior, dan regio ekstrimitas inferior, terdapat makulopapular, multipel, distribusi generalisata dan konfluens. Pasien dalam kasus ini diberikan terapi kortikosteroid sistemik dan topikal serta antihistamin. Exanthematous drug eruption dapat terjadi 1-5% pada konsumsi pertama untuk semua obat. Erupsi obat biasanya muncul 4-21 hari setelah konsumsi obat penyebab. Penatalaksanaan utama adalah mengidentifikasi dan menghentikan obat penyebab. Terapi farmakologi bersifat simptomatik.

Kata kunci: antibiotik, antikonvulsan, exanthematous drug eruption


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.