Hubungan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Stigma Penyakit Kusta

Hera Julia Garamina

Abstract


Kusta adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta yaitu Mycobacterium leprae (M. Leprae) yang menyerang sistem saraf tepi, dan selanjutnya menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem musculo retikulo endotelia, mata, otot, tulang, testis, dan organ lain. Indonesia tercatat menduduki peringkat ke tiga di dunia. Sementara itu M. Leprae dapat mengakibatkan kerusakan syaraf sensori, otonom, dan motorik. Penyakit kusta bukanlah penyakit yang menyebabkan kematian, melainkan penyakit kronis sehingga menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang sangat kompleks. Bukan hanya dari segi medis tetapi juga dari segi mental sosial ekonomi dan budaya penderita, terutama akibat cacat yang ditimbulkan penyakit tersebut, selain kondisi aktif sebagai penderita, maka keadaan
cacat inilah juga yang biasanya menyebabkan penderita kusta ditolak dan diabaikan masyarakat. Tidak jarang mereka dikucilkan oleh masyarakat atau bahkan oleh keluarganya sendiri. Stigma inilah yang membuat masyarakat penyandang kusta memilih hidup berkelompok, atau mengelompokkan diri. Sikap hidup seperti ini membuat permasalahan semakin banyak dan menumpuk. Hal ini disebabkan karena rendahnya tingkat pengetahuan dan minimnya informasi yang didapat masyarakt tentang penyakit kusta. Jika tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penyakit kusta tinggi dan mereka dapat menerima kehadiran pasien dengan penyakit kusta maka stigma tidak akan terbentuk didalam suatu kelompok masyarakat. Tetapi jika tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penyakit kusta rendah maka stigma akan terbentuk didalam suatu kelompok masyarakat sehingga masyarakat memiliki sikap untuk menolak kehadiran pasien dengan penyakit kusta. [J Agromed Unila 2015; 2(3):326-332]
Kata kunci: kusta, pengetahuan, sikap, stigma

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.