Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK
<p align="justify"><strong>JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung) </strong>is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update. <strong>JK Unila</strong> is intended to ensure that only good paper is published. All incoming manuscripts are peer-reviewed at least 2 (two) reviewers, before being accepted for publication. The reviewers remain anonymous to the author throughout and following the refereeing process. At the same time, the identity of the author is also unknown to the reviewers. Each manuscript is basically reviewed by two reviewers. The criteria which are asked reviewers i.e. the originality, clarity of of the method and the result, correctly cied previous relevant work. The common time for refereeing process is approximately 4 week. Reviewers are carefully selected from the nationally university and research community.</p>Fakultas Kedokteranen-USJurnal Kedokteran Universitas Lampung2614-6991<strong>Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila)</strong> <span> is licensed under a </span><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License</a><span>.</span>Peran Teknologi dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat: Evaluasi Model Bisnis Halodoc sebagai Platform Telemedicine
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3796
<p>This study aims to evaluate the role of technology in improving public health through Halodoc’s business model as a telemedicine platform in Indonesia, as well as analyze regulatory challenges, data security, and user trust. This research employs a qualitative method with a case study approach and systematic literature analysis. Data were collected through in-depth review of scientific literature, case study implementation of Halodoc, and analysis of telemedicine regulatory policies in Indonesia. The analysis focuses on the impact of telemedicine adoption, platform business models, and implementation challenges during and post-COVID-19 pandemic. Halodoc plays a significant role in expanding access to healthcare services, particularly in urban areas. The platform integrates online medical consultations, digital prescription provision, and medication delivery within an efficient ecosystem. During the COVID-19 pandemic, Indonesian telemedicine users surged from 2 million (2019) to 20 million (2020), demonstrating extraordinary growth. However, research reveals critical challenges including regulatory ambiguity for P2P (provider-to-patient) models, concerns about personal data security, access disparities between urban and rural areas, and limited user trust in online diagnosis without physical examination. Although Halodoc has proven its value proposition in improving healthcare efficiency and accessibility, continuous integration into the national health system requires strengthened comprehensive regulation, standardized data security, and strategic collaboration between public and private sectors. The government needs to develop clear telemedicine policies to maximize the potential of digital platforms in creating an inclusive and sustainable healthcare ecosystem.</p>Waluyo RudiyantoAnisa Nuraisa JausalNabeel Muhammad Rasha Andhika SatriaMalik Ahza Nugroho
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310111210.23960/jkunila.v10i1.pp1-12Gambaran Deskriptif Jumlah Bayi Lahir dan Prevalensi Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Lima Kabupaten Provinsi Lampung Tahun 2024
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3807
<p>Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu indikator utama dalam mengukur derajat kesehatan ibu dan anak, karena kondisinya berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian pada masa neonatal, kejadian morbiditas, serta potensi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak di kemudian hari. Upaya pencegahan BBLR sangat dipengaruhi oleh kualitas pelayanan <em>Antenatal Care</em> (ANC), yang berfungsi untuk memantau kesehatan ibu dan janin, mengidentifikasi faktor risiko sejak dini, serta memberikan intervensi medis dan edukasi kesehatan selama masa kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran deskriptif mengenai jumlah bayi lahir dan prevalensi BBLR di lima kabupaten Provinsi Lampung pada tahun 2024. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain <em>cross-sectional</em> berbasis data sekunder yang diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung tahun, <em>Lampung Dalam Angka</em> 2025. Unit analisis dalam penelitian ini adalah tingkat kabupaten, dengan variabel utama meliputi jumlah kelahiran hidup dan jumlah kasus BBLR dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui perhitungan distribusi frekuensi serta estimasi prevalensi BBLR pada masing-masing wilayah. Hasil analisis menunjukkan terdapat 67.392 kelahiran hidup dengan 1.470 kasus BBLR, sehingga diperoleh prevalensi sebesar 2,18%. Kabupaten Lampung Timur mencatat prevalensi tertinggi sebesar 4,84%, sedangkan prevalensi terendah terdapat di Kabupaten Lampung Barat sebesar 0,62%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya variasi kondisi kesehatan ibu dan akses pelayanan kesehatan antarwilayah. Secara keseluruhan, meskipun angka prevalensi relatif rendah, terdapat ketimpangan antar kabupaten yang memerlukan perhatian khusus sebagai dasar perencanaan dan evaluasi program kesehatan ibu dan anak di lima kabupaten Provinsi Lampung.</p>Khorina Fatin Bilqis
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101161910.23960/jkunila.v10i1.pp16-19Eksplorasi Target Molekuler Baru untuk Terapi Tuberkolosis Berbasis Jalur Biokimia
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3819
<p>Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium tuberculosis</em> dan masih menjadi masalah kesehatan global utama, dengan 10,8 juta kasus baru serta 1,25 juta kematian pada tahun 2023. Munculnya galur resisten obat seperti multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) dan extensively drug-resistant tuberculosis (XDR-TB) semakin mempersulit keberhasilan terapi konvensional. Oleh karena itu, pengembangan obat berbasis target molekuler yang memanfaatkan jalur biokimia esensial bakteri, namun tidak dimiliki manusia, menjadi strategi yang menjanjikan. Penelitian ini menggunakan metode <em>literature review</em> dengan menelaah, menganalisis, dan mensintesis berbagai artikel ilmiah relevan mengenai eksplorasi target molekuler baru untuk terapi TB berbasis jalur biokimia. Sumber literatur diperoleh dari jurnal nasional dan internasional terindeks yang dipublikasikan pada rentang tahun 2020–2026 melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Literatur difokuskan pada target molekuler <em>M. tuberculosis</em> terkait biosintesis dinding sel, metabolisme energi, dan pendekatan genomik. Hasil telaah menunjukkan empat jalur utama yang potensial, yaitu jalur shikimat sebagai regulator biosintesis senyawa aromatik esensial; biosintesis dinding sel melalui penghambatan DprE1 dan InhA; metabolisme energi melalui target ATP sintase dan sitokrom bc₁ dan aa₃; serta <em>host-directed therapy</em> (HDT) yang memodulasi autofagi makrofag. Pendekatan kombinasi antara terapi antibakteri dan imunomodulasi inang berpotensi mengatasi resistensi obat serta mempersingkat durasi pengobatan TB di masa depan.</p>Sri Octa Handayani
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101313810.23960/jkunila.v10i1.pp31-38Chronic Inflammation as a Central Driver of Disease Progression in Myeloproliferative Neoplasms (MPNs): A Narrative Review
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3826
<div> <p>Myeloproliferative neoplasms (MPNs) are clonal hematologic disorders characterized by excessive proliferation of myeloid cells that potentially progress to bone marrow fibrosis and acute myeloid leukemia (AML). At the molecular level, MPNs are defined by the presence of driver mutations, particularly in the <em>JAK2</em>, <em>CALR</em>, and <em>MPL</em> genes, which lead to constitutive activation of the JAK–STAT signaling pathway. Activation of this pathway not only promotes hematopoietic cell proliferation but also induces inflammatory responses that play a crucial role in MPNs pathogenesis and progression. This review aims to summarize and evaluate the role of chronic inflammation in MPNs progression, including the interactions between genetic mutations, inflammatory signaling pathways, and the bone marrow microenvironment. Chronic inflammation contributes to disease progression through multiple mechanisms, including activation of signaling pathways such as JAK–STAT and NF-κB, increased production of proinflammatory cytokines, and the induction of oxidative stress that promotes genomic instability. In addition, inflammation drives remodeling of the bone marrow microenvironment into a profibrotic and immunosuppressive state, providing a selective advantage for clonal expansion and contributing to therapeutic resistance. The dynamic interplay between clonal cells, the immune system, and the microenvironment establishes a feed-forward loop that accelerates MPN progression toward leukemic transformation. The findings of this narrative review emphasize that therapeutic strategies in MPNs should not only target the genetic mutations but also need to consider the modulation of inflammation and bone marrow microenvironment as targeted-therapy complementary approaches.</p> </div> <div> <p><strong> </strong></p> </div>Selvi Rahmawati
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101495710.23960/jkunila.v10i1.pp49-57UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS VOICE HANDICAP INDEX-10 (VHI-10) ADAPTASI BAHASA INDONESIA DI BAGIAN T.H.T.K.L RSUP DR MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3836
<p><strong>Latar Belakang: </strong>Disfonia merupakan istilah umum untuk setiap gangguan suara yang disebabkan kelainan pada organ-organ fonasi, terutama laring maupun diluar organ fonasi. Baik yang bersifat organik maupun fungsional. Saat ini didapatkan beberapa instrument pemeriksaan disfonia. Pengembangan alat ukur tersebut bertujuan untuk menilai tingkat kecacatan yang diakibatkan oleh disfonia. <em>Voice Handicap Index-10</em> merupakan salah satu jenis kuisioner yang terbukti valid untuk mengetahui pengaruh perubahan suara terhadap terhadap fungsi, fisik dan fungsional penderita. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan adaptasi VHI-10 bahasa Indonesia serta melakukan uji validasi dan reliabilitas agar VHI-10 versi bahasa Indonesia. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini dibagi menjadi dua studi yakni studi validitas dan studi reliabilitas. Studi validitas dilakukan dengan uji validasi transkultural WHO . Studi reliabilitas menggunakan metode potong lintang dalam bentuk <em>guide interview </em> dan pengisian kuisioner. Sampel penelitian terdiri dari 50 sampel non disfonia yang terdiri dari dokter muda dan dokter residen dan 36 sampel dengan keluhan disfonia yang berobat di bagian THT KL RSMH. Penelitian dilakukan pada bulan November 2017 sampai dengan Februari 2018. <strong>Hasil: </strong>Hasil analisis statistik mendapatkan bahwa kuisioner ini valid (Pearson’s r to r moment 0,502-0,854 dan p< 0,05) dan reliabel (<em>Cronbach α </em>0,78). <strong>Kesimpulan: </strong>Kuisioner <em>Voice Handicap Index-10 </em> adaptasi bahasa Indonesia valid dan reliabel.</p>Fivien Fedriani
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101677710.23960/jkunila.v10i1.pp67-77Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (Health Maintenance) Pada Masyarakat Agrikultur: Literature Review
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3840
<p>Angka kesakitan pada masyarakat agrikultur umumnya tinggi, dengan tren prevalensi bervariasi. Sektor pertanian menyumbang sekitar 17,3% dari total kejadian Penyakit Akibat Kerja (PAK) di Indonesia. Mayoritas risiko mencakup bahaya ergonomis, paparan kimia, dan infeksi lingkungan tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mensintesis hasil penelitian mengenai perilaku pemeliharaan kesehatan pada masyarakat agrikultur serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode <em>literature review</em> dengan pendekatan <em>scoping review</em> berdasarkan pedoman PRISMA-ScR. Pencarian literatur dilakukan melalui database PubMed, Scopus, ScienceDirect, ProQuest, dan Google Scholar pada publikasi tahun 2020–2026. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi diekstraksi dan dianalisis menggunakan metode <em>narrative thematic synthesis</em>. Kajian menunjukkan bahwa perilaku pemeliharaan kesehatan pada masyarakat agrikultur meliputi penggunaan alat pelindung diri, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja, pemeriksaan kesehatan berkala, pengelolaan stres, pola hidup sehat, serta pemanfaatan pelayanan kesehatan preventif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masyarakat agrikultur masih menghadapi risiko gangguan muskuloskeletal, penyakit tidak menular, cedera kerja, gangguan kesehatan pernapasan, dan masalah kesehatan mental. Faktor yang memengaruhi meliputi tingkat pengetahuan, sikap terhadap kesehatan, kondisi ekonomi, akses pelayanan kesehatan, budaya, dan lingkungan kerja.</p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> masyarakat agrikultur, pencegahan penyakit, perilaku pemeliharaan kesehatan</p>suharmantoarman suharmanto
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101889410.23960/jkunila.v10i1.pp88-94The Importance of Stem Cells as Praxis in the Development of Current Regenerative Medicine
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3850
<p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>For almost a century, the foundation of modern medicine has been the same: determine the underlying cause of the illness, then prevent or treat it. Antibiotics kill bacteria. Beta-blockers inhibit adrenergic receptors. Insulin replaces the hormone that is not produced. This approach is extraordinarily effective — but it has a fundamental limitation: it does not restore the damaged biological capacity, it manages it. Stem cells offer something categorically different: the ability to regenerate damaged tissues and organs from the most fundamental level — the cellular level. This is not a difference of degree, but a difference of kind. Stem cells occupy a central position in the revolution of regenerative medicine — a paradigm aimed at restoring the function of damaged tissues and organs, rather than merely managing symptoms. This review presents recent evidence (2019–2026) on the role of stem cells as praxis — scientific actions informed by values and oriented toward the restoration of human capabilities. This article examines the applications of stem cells in the fields of neurology, cardiology, oncology, endocrinology, and tissue engineering, as well as mapping the translational challenges and their implications for global health policy.</p>Soraya RahmanisaEvi KurniawatyRika Lisiswanti
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310110210910.23960/jkunila.v10i1.pp102-109Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Wilayah Pesisir Desa Kilensari Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3855
<p>Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi perhatian utama di Indonesia, termasuk di wilayah pesisir yang secara sosial-ekonomi bersifat rentan meskipun memiliki akses terhadap sumber protein hewani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah pesisir Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik yang dilaksanakan pada tanggal 7–13 April 2026. Sampel berjumlah 94 balita usia 0–59 bulan yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, pengukuran tinggi badan dengan microtoise, serta data sekunder dari SiBesti Plus Kabupaten Situbondo. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher's Exact Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 23% (21 dari 94 balita). Sebagian besar balita memiliki pola konsumsi baik (98%), lebih dari separuh tidak mendapat ASI eksklusif (54%), dan 52% memiliki status imunisasi tidak lengkap. Analisis bivariat menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif (p = 0,001; OR = 0,145) dan kelengkapan imunisasi (p = 0,004; OR = 0,194) berhubungan signifikan dengan kejadian stunting, sedangkan pola konsumsi, pemberian MPASI, riwayat penyakit infeksi, dan tingkat pengetahuan ibu tidak menunjukkan hubungan bermakna secara statistik. Disimpulkan bahwa stunting di wilayah pesisir Desa Kilensari bersifat multifaktorial dengan pemberian ASI eksklusif dan kelengkapan imunisasi sebagai faktor protektif yang signifikan, sehingga diperlukan penguatan program intervensi gizi yang komprehensif dan berkelanjutan.</p>Najmah Naurah naurah
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-06-282026-06-2810121922510.23960/jkunila.v10i1.pp219-225Peran Reactive Oxygen Species dalam Proses Penyembuhan Luka: Tinjauan Molekuler
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3877
<p>Penyembuhan luka merupakan proses biologis yang berlangsung melalui empat fase terkoordinasi yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan<em> remodeling</em>. <em>Reactive oxygen species</em> (ROS) dihasilkan terutama oleh enzim <em>NADPH oxidase</em> (NOX) yang berperan sebagai regulator molekuler pada setiap fase. Tinjauan literatur ini bertujuan merangkum bukti ilmiah terkini mengenai peran molekuler ROS dalam proses penyembuhan luka. Pada fase hemostasis, ROS yang dihasilkan trombosit melalui jalur NOX dan <em>cyclooxygenase</em> memperkuat aktivasi dan agregasi trombosit serta mempersiapkan lingkungan mikro. Selama fase inflamasi, neutrofil menjalankan proses <em>respiratory burst </em>menghasilkan ROS untuk eliminasi patogen dan mengaktivasi jalur <em>nuclear factor kappa B</em> (NF-κB). Pada fase proliferasi, ROS menstabilkan <em>hypoxia-inducible factor 1-alpha</em> (HIF-1α) untuk mendorong angiogenesis melalui <em>vascular endothelial growth factor</em> (VEGF) serta mengaktivasi <em>mitogen‐activated protein kinases</em> (MAPK) yang mendukung re-epitelisasi. Pada fase <em>remodeling</em>, jalur <em>NF-E2-related factor 2</em> (Nrf2) berperan sebagai sistem pertahanan antioksidan utama yang mencegah degradasi <em>extracellular matrix</em> (ECM) secara berlebihan. Ketidakseimbangan kadar ROS pada kondisi patologis seperti diabetes melitus menyebabkan gangguan regulasi seluler yang menghambat proses penyembuhan dan berkontribusi terhadap terbentuknya luka kronis sehingga modulasi ROS melalui target spesifik seperti NOX berpotensi besar sebagai strategi terapeutik dalam penanganan luka.</p>Zahara Nurfatihah Z
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310111612010.23960/jkunila.v10i1.pp116-120Peran Gut Microbiome (Disbiosis Usus) sebagai Faktor Risiko DM Tipe 2 pada Anak dan Remaja
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3884
<p>Kejadian Diabetes Melitus (DM) tipe 2 pada kelompok usia anak-anak dan remaja terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Selain faktor risiko seperti obesitas, pola hidup dan riwayat keluarga, penelitian terbaru secara konsisten mengarahkan perhatian pada ekosistem mikroorganisme usus atau <em>gut microbiome</em> sebagai bagian baru pada penyakit ini. Tinjauan literatur naratif ini disusun dengan tujuan mengkaji secara mendalam mengenai bagaimana kondisi dysbiosis usus berkontribusi sebagai faktor risiko DM tipe 2 pada anak dan remaja. Penelurusan dilakukan melalui PubMed, Scopus, dan Google Scholar, mencakup publikasi tahun 2017-2026. Berdasarkan telaan yang dilakukan terhadap artikel terpilih, disbiosis usus memiliki andil dalam pathogenesis DM tipe 2 melalui jalur molekuler yang saling berkaitan, antara lain penurunan [roduksi <em>short chain fatty acids</em> (SCFA) terutama butirat, endotoksemua metabolik yang disebabkan oleh transmigrasi lipopolisakarida (LPS) bakteri gram negative menuju sirkulasi sistemuk, peningkatan permeabilitas epitel usus (<em>leaky gut</em>) serta disregulasi metabolisme asam empedu melalui reseptor FXR dan TGR5. Pada kelompok usia ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang memperberat derajar dysbiosis, seperti perubahan hormonal pada masa pubertas, penggunaan antibiotic yang berulang dan pola makan tinggi gula tambahan dan lemak jenuh. Pemahaman terhadap hubungan antara disbiosis dab DM tipe 2 pada anak dan remaja memberikan perspektif baru dalam upaya deteksi dini dan pencegahan yang lebih terarah berbasis modulasi <em>microbiome</em>. </p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Anak, diabetes melitus tipe 2, disbiosis usus, gut microbiome, remaja, resistensi insulin</p>Ayu Tiara Fitri
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310112813410.23960/jkunila.v10i1.pp128-134Association Between Age and Fibrinolytic Success in ST-Segment Elevation Myocardial Infarction Patients Treated with Streptokinase
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3890
<p><strong>Background:</strong> ST-Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) is a cardiovascular emergency requiring immediate reperfusion therapy. Fibrinolytic therapy remains an important treatment option, particularly in healthcare facilities where access to primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI) is limited. Advanced age has been associated with poorer prognosis in STEMI patients; however, the relationship between age and fibrinolytic success remains controversial.</p> <p><strong>Objective:</strong> To analyze the association between age and fibrinolytic success among STEMI patients treated with streptokinase.</p> <p><strong>Methods:</strong> This retrospective cross-sectional analytic study utilized medical record data from STEMI patients who received fibrinolytic therapy at Yukum Medical Centre Hospital between January 2024 and December 2025. Subjects were selected using a total sampling method. Patients were categorized into two age groups: <60 years and ≥60 years. Successful fibrinolysis was defined as a ≥50% resolution of ST-segment elevation within 60–90 minutes after fibrinolytic administration. The association between age and fibrinolytic success was analyzed using the Chi-square test, with a significance level of p<0.05.</p> <p><strong>Results:</strong> A total of 98 patients met the inclusion criteria, with a mean age of 56.24 ± 11.68 years. Most participants were male (73.47%). Successful fibrinolysis was observed in 49 patients (50.0%). In the ≥60 years age group, successful fibrinolysis occurred in 16 patients (44.44%), whereas 33 patients (53.23%) in the <60 years group achieved successful fibrinolysis. Statistical analysis demonstrated no significant association between age and fibrinolytic success (PR=1.188; 95% CI: 0.800–1.763; p=0.402).</p> <p><strong>Conclusion:</strong> There was no significant association between age and fibrinolytic success among STEMI patients treated with streptokinase. Reperfusion success is likely influenced more by other factors, including treatment delay, clinical characteristics, and coronary thrombotic burden.</p> <p><strong>Keywords:</strong> ST-segment elevation myocardial infarction, STEMI, fibrinolysis, streptokinase, age.</p>iswandi darwis
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310114114710.23960/jkunila.v10i1.pp141-147Perspektif Stakeholder terhadap Kompetensi Dokter: Implikasi bagi Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kedokteran
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3892
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Analisis kebutuhan berbasis stakeholder merupakan langkah penting dalam pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan saat ini dan masa depan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi perspektif stakeholder mengenai kompetensi yang diperlukan oleh dokter serta implikasinya terhadap pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2025 dengan menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan metode <em>Focus Group Discussion</em> (FGD). Jumlah partisipan sebanyak 20 responden dibagi menjadi dua kelompok FGD. Partisipan terdiri atas stakeholder eksternal yang meliputi pengelola rumah sakit, dokter pendidik klinis, kepala puskesmas, perwakilan dinas kesehatan, pengelola program kesehatan, dan pengguna lulusan. Data dikumpulkan melalui FGD semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan thematik.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Analisis menghasilkan lima tema utama kebutuhan pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran, yaitu: (1) Pembentukan identitas profesional yang mencakup etika, profesionalisme, karakter, motivasi, dan digital professionalism; (2) Soft Skills dan Komunikasi yang meliputi komunikasi dokter-pasien, komunikasi interprofesional, dan kolaborasi tim; (3) Kesiapan klinik dan penalaran klinis yang mencakup kesiapan praktik klinis, penalaran klinis, pengalaman klinis, dan supervisi; (4) Ilmu sistem kesehatan yang meliputi pemahaman sistem kesehatan, kebijakan kesehatan, regulasi janiman kesehatan, serta patient safety; dan (5) Kesehatan digital and literasi AI yang mencakup literasi kesehatan digital, pemanfaatan teknologi kesehatan, dan kompetensi kecerdasan buatan. Stakeholder juga menekankan pentingnya orientasi pelayanan kesehatan berbasis masyarakat serta kemampuan dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Stakeholder mengharapkan kurikulum pendidikan kedokteran yang mampu menghasilkan dokter yang kompeten secara klinis, profesional dan beretika, komunikatif, memahami sistem kesehatan, berorientasi pada masyarakat, serta siap menghadapi transformasi digital.</p>Rika Lisiswanti
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310115916610.23960/jkunila.v10i1.pp159-166The Potential of Modified Cassava Flour (MOCAF) as a Low Glycemic Index Functional Food for the Prevention and Management of Diabetes Mellitus: A Literature Review
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3899
<p>Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease whose prevalence continues to increase and has become a major global public health challenge. Dietary management through the consumption of low-glycemic-index foods is considered an important strategy for the prevention and control of diabetes mellitus. Modified Cassava Flour (MOCAF) is a fermented cassava flour with improved physicochemical and functional properties compared to conventional cassava flour. This article aimed to review the potential of MOCAF as a low-glycemic-index functional food for the prevention and management of diabetes mellitus. The study employed a literature review approach by examining scientific publications related to MOCAF characteristics, glycemic index, resistant starch, and their associations with glucose metabolism. The findings indicate that MOCAF contains resistant starch and slowly digestible starch, which may reduce glycemic response, improve insulin sensitivity, and support blood glucose regulation. Furthermore, MOCAF has promising potential as a local food alternative to support food diversification and diabetes prevention programs. However, further clinical studies are required to strengthen the evidence regarding the effectiveness of MOCAF in diabetes management.</p>Wiwi Febriani Febriani
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310116717210.23960/jkunila.v10i1.pp167-172Infeksi Virus Dengue dan Keterlibatan Hati: Imunopatogenesis, Mekanisme Cedera Hepatik, dan Implikasi Klinis
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3903
<p>Abstrak</p> <p>Infeksi virus dengue merupakan salah satu penyakit arboviral paling penting di dunia yang tidak hanya menyebabkan manifestasi sistemik, tetapi juga dapat menimbulkan keterlibatan hati dengan berbagai tingkat keparahan. Keterlibatan hati pada dengue mencakup spektrum yang luas, mulai dari peningkatan ringan kadar aminotransferase hingga hepatitis berat dan gagal hati akut yang berpotensi mengancam jiwa. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengevaluasi mekanisme patogenesis yang mendasari cedera hati akibat infeksi dengue serta implikasi klinisnya. Artikel ini mensintesis bukti ilmiah terkini mengenai epidemiologi, virologi, tropisme hati, respons imun bawaan dan adaptif, peran sitokin dan kemokin, apoptosis hepatosit, serta nilai diagnostik dan prognostik biomarker hati. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerusakan hati pada dengue merupakan hasil interaksi kompleks antara replikasi virus, aktivasi sistem imun, disregulasi sitokin, disfungsi endotel, dan gangguan mikrosirkulasi. Hepatosit dan sel Kupffer berperan sebagai target utama yang berkontribusi terhadap perkembangan inflamasi dan cedera jaringan. Selain itu, mekanisme antibody-dependent enhancement (ADE), badai sitokin, dan sitotoksisitas sel T turut memperberat kerusakan hepatoseluler. Biomarker seperti aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), albumin, bilirubin, dan parameter koagulasi memiliki potensi untuk mendukung deteksi dini serta stratifikasi risiko, meskipun nilai prediktifnya bervariasi antar populasi dan fase penyakit. Secara keseluruhan, keterlibatan hati merupakan komponen penting dalam patogenesis dengue yang berkaitan erat dengan keparahan penyakit dan luaran klinis. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme biologis yang mendasarinya diperlukan untuk mendukung pengembangan biomarker yang lebih akurat dan strategi terapeutik yang lebih efektif.</p>Maya Ulfah
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310117318110.23960/jkunila.v10i1.pp173-181Perkiraan Waktu Kematian Berdasarkan Kaku Mayat
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3925
<p>Perkiraan waktu kematian merupakan salah satu aspek penting dalam investigasi forensik untuk membantu rekonstruksi peristiwa kematian. Berbagai perubahan pascakematian dapat digunakan dalam perkiraan waktu kematian, salah satunya adalah kaku mayat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji metode perkiraan waktu kematian berdasarkan karakteristik kaku mayat serta faktor-faktor yang memengaruhi kemunculan dan hilangnya fenomena tersebut. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah berupa buku teks kedokteran forensik, artikel penelitian, dan publikasi akademik yang membahas kaku mayat sebagai indikator perkiraan waktu kematian. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaku mayat terjadi akibat habisnya adenosin trifosfat (ATP) pada jaringan otot setelah kematian sehingga terbentuk ikatan permanen antara aktin dan miosin. Kaku mayat umumnya mulai muncul dalam 1–2 jam setelah kematian, berkembang sempurna dalam 6–12 jam, bertahan selama 12–24 jam, kemudian menghilang secara bertahap dalam 24–36 jam akibat proses autolisis dan pembusukan. Kemunculan dan hilangnya kaku mayat mengikuti pola kraniokaudal yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam memperkirakan waktu kematian. Namun, akurasi metode ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu lingkungan, usia, status gizi, aktivitas fisik sebelum kematian, serta penyebab kematian. Dengan demikian, penilaian kaku mayat sebaiknya dikombinasikan dengan tanda-tanda pascakematian lainnya untuk memperoleh perkiraan waktu kematian yang lebih akurat.</p>Septia Eva LusinaAmanda Febby FebrinaNabila Aulia SafitriMuhammad Fauzan Iqbal
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310119019710.23960/jkunila.v10i1.pp190-197Pola Peresepan Terapi Hipertensi – Sebuah Tinjauan Literatur Mengenai Pola Penggunaan Obat.
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3801
<p>Hipertensi merupakan tantangan kesehatan global yang signifikan dengan prevalensi di Indonesia mencapai 34,5%.<br>Perubahan kriteria diagnosis menurut panduan AHA/ACC 2017 (>130/80 mmHg) serta tingginya risiko komplikasi<br>kardiovaskular menuntut ketepatan dalam pemilihan terapi farmakologis untuk menekan angka morbiditas dan<br>mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pola penggunaan obat antihipertensi melalui studi literatur dari<br>berbagai fasilitas kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode tinjaun literatur. Pencarian artikel dilakukan melalui<br>basis data PubMed, Google Scholar, Scopus, Web of Science, dan ScienceDirect untuk publikasi berbahasa Inggris dan<br>Indonesia dalam rentang waktu 2016–2024. Kriteria inklusi meliputi studi orisinal mengenai pola penggunaan<br>antihipertensi pada pasien rawat inap maupun rawat jalan. Dari 2.476 artikel yang teridentifikasi, 16 studi memenuhi<br>kriteria analisis. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa Calcium Channel Blockers (CCB), khususnya Amlodipin,<br>merupakan golongan obat yang paling dominan digunakan sebagai monoterapi dengan prevalensi berkisar antara<br>31,18% hingga 68,5%. Pada pola terapi kombinasi, sinergi antara CCB dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB), seperti<br>kombinasi Amlodipin dan Candesartan, menjadi pilihan utama di berbagai instansi (36,6%–58,06%). Pasien rawat inap<br>menunjukkan kecenderungan penggunaan terapi kombinasi yang jauh lebih tinggi (96,43%) dibandingkan pasien<br>rawat jalan. Kesimpulan: Pola penggunaan antihipertensi di Indonesia didominasi oleh golongan CCB (Amlodipin)<br>sebagai monoterapi dan kombinasi CCB-ARB sebagai terapi kombinasi terapi.<br>Kata kunci: Antihipertensi, Pola Penggunaan Obat, CCB, ARB, Studi Literatur.</p>Dwi Ismayati
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101131510.23960/jkunila.v10i1.pp13-15Adaptasi dan Maladaptasi Fisiologis terhadap Paparan Chronic Intermittent Hypoxia: Integrasi Mekanisme Molekuler dan Respons Multi-Organ
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3813
<p>Paparan chronic intermittent hypoxia (CIH) merupakan kondisi fisiologis yang ditandai oleh siklus hipoksia–reoksigenasi berulang, yang banyak dijumpai pada gangguan seperti obstructive sleep apnea dan memiliki implikasi luas terhadap fungsi multi-organ. Meskipun telah banyak diteliti, efek CIH masih menunjukkan heterogenitas yang signifikan, dengan laporan yang mengindikasikan baik respons adaptif maupun maladaptif. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah terkini mengenai mekanisme molekuler dan respons fisiologis multi-organ terhadap paparan CIH. Penelitian ini menggunakan pendekatan literature review dengan strategi pencarian sistematis pada basis data PubMed, Scopus, dan ScienceDirect untuk periode 2020–2026. Proses seleksi mengikuti alur PRISMA secara naratif, dengan total 38 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif, termasuk 12 studi utama yang disintesis secara mendalam. Analisis dilakukan dengan pendekatan tematik yang mencakup mekanisme molekuler dan respons organ-spesifik. Hasil menunjukkan bahwa CIH menginduksi spektrum respons fisiologis yang bergantung pada intensitas dan durasi paparan. Mekanisme adaptif melibatkan aktivasi jalur hypoxia-inducible factor (HIF), peningkatan kapasitas antioksidan, angiogenesis, dan reprogramming metabolik. Sebaliknya, paparan yang lebih berat memicu stres oksidatif kronis, inflamasi, disfungsi mitokondria, serta aktivasi jalur apoptosis. Pada tingkat organ, CIH berkontribusi terhadap disfungsi kardiovaskular, cedera ginjal, gangguan metabolik hepatik, dan neuroinflamasi. Secara keseluruhan, temuan menunjukkan bahwa efek CIH berada dalam suatu spektrum adaptasi–maladaptasi yang kompleks dan dipengaruhi oleh parameter paparan serta konteks biologis. Kajian ini menyoroti adanya kesenjangan penelitian terkait standardisasi protokol CIH dan integrasi lintas mekanisme molekuler serta respons multi-organ. Pendekatan integratif diperlukan untuk meningkatkan pemahaman fisiologis dan relevansi klinis dari paparan CIH.</p>Shellya Puti SudestyKhorina Fatin BilqisSri Octa Handayani
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101203010.23960/jkunila.v10i1.pp20-30Peran Stres Oksidatif sebagai Mediator dalam Modulasi Regulasi Hormonal terhadap Aktivitas Fisik: Tinjauan Fisiologi dan Biokimia
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3820
<p>Aktivitas fisik memengaruhi homeostasis tubuh melalui interaksi kompleks antara respons neuroendokrin dan perubahan status redoks seluler. Meskipun hubungan antara aktivitas fisik dan regulasi hormonal telah banyak diteliti, peran stres oksidatif sebagai mediator dalam proses tersebut masih belum banyak disintesis secara integratif. Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis peran stres oksidatif sebagai mediator dalam hubungan antara aktivitas fisik dan regulasi hormonal dari perspektif fisiologi dan biokimia. Penelitian ini menggunakan metode <em>integrative literature review</em> dengan pendekatan sistematis berbasis PRISMA terhadap literatur yang dipublikasikan pada tahun 2019-2026 dan diperoleh dari basis data <em>PubMed, Scopus, Web of Science, serta ScienceDirect</em>. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis dan disintesis secara tematik-mekanistik berdasarkan keterkaitan antara aktivitas fisik, stres oksidatif, dan respons hormonal. Hasil sintesis menunjukkan bahwa aktivitas fisik mengaktivasi sumbu <em>hypothalamic-pituitary-adrenal</em> (HPA) serta memodulasi berbagai hormon, termasuk kortisol, insulin, growth hormone, dan testosteron. Secara bersamaan, aktivitas fisik meningkatkan produksi <em>reactive oxygen species</em> (ROS) yang memiliki peran dualistik. Pada kadar fisiologis, ROS berfungsi sebagai molekul pensinyalan dalam <em>redox signaling</em> yang mendukung adaptasi seluler dan efisiensi metabolik. Sebaliknya, pada kondisi produksi berlebih, ROS dapat memicu stres oksidatif yang berdampak negatif terhadap fungsi seluler dan regulasi hormonal. Aktivitas fisik dengan intensitas moderat terbukti meningkatkan kapasitas antioksidan endogen dan mendukung stabilitas homeostasis, sedangkan latihan dengan intensitas tinggi atau tanpa pemulihan yang adekuat berpotensi menyebabkan maladaptasi fisiologis. Dengan demikian, stres oksidatif berperan sebagai mediator biologis kunci yang menghubungkan aktivitas fisik dengan regulasi hormonal, sehingga pendekatan latihan berbasis keseimbangan redoks menjadi penting dalam optimalisasi adaptasi fisiologis.</p>Shellya Puti SudestySri Octa HandayaniKhorina Fatin Bilqis
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101394810.23960/jkunila.v10i1.pp39-48Hubungan Stres Oksidatif dan Akumulasi Advanced Glycation End-Products (AGEs) terhadap Komplikasi Mikrovaskular Diabetes: Systematic Review
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3827
<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Komplikasi mikrovaskular diabetes melitus (DM), termasuk retinopati, nefropati, dan neuropati, merupakan penyebab utama morbiditas kronik pada penderita diabetes secara global. Stres oksidatif dan akumulasi <em>advanced glycation end-products</em> (AGEs) melalui jalur biokimia akibat hiperglikemia berperan penting dalam patogenesis komplikasi tersebut. <em>Systematic review</em> ini bertujuan menganalisis bukti ilmiah terkini terkait hubungan mekanistik antara stres oksidatif dan AGEs terhadap komplikasi mikrovaskular diabetes. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan MDPI dalam rentang tahun 2018–2026 menggunakan kata kunci terkontrol. Dari 1.847 artikel yang teridentifikasi, sebanyak 32 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa hiperglikemia kronik memicu peningkatan produksi spesies oksigen reaktif (ROS) melalui beberapa jalur utama, termasuk aktivasi NADPH oksidase, disfungsi rantai transport elektron mitokondria, dan jalur poliol. AGEs yang terbentuk berikatan dengan reseptor RAGE, mengaktivasi jalur NF-κB yang memperburuk inflamasi kronik, disfungsi endotel, serta perubahan struktur jaringan mikrovaskular. Sebanyak 28 dari 32 studi menunjukkan korelasi signifikan antara kadar AGEs dan derajat keparahan komplikasi. Intervensi yang menargetkan stres oksidatif dan jalur AGEs–RAGE menunjukkan potensi dalam memperlambat progresi komplikasi, menegaskan pentingnya pendekatan terapi berbasis mekanisme biokimia. Temuan ini juga menyoroti perlunya penelitian lanjutan berbasis uji klinis untuk mengevaluasi efektivitas intervensi antioksidan dan inhibitor AGEs dalam praktik klinik sehari-hari yang lebih luas populasi.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Advanced Glycation End-Products; Diabetes Melitus; Komplikasi Mikrovaskular; Stres Oksidatif; RAGE</p> <p> </p> <p><strong>Oxidative Stress and Accumulation of Advanced Glycation End-Products (AGEs) in Relation to Diabetic Microvascular Complications: A Systematic Review</strong></p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>Microvascular complications of diabetes mellitus (DM), including retinopathy, nephropathy, and neuropathy, are major causes of chronic morbidity worldwide. Oxidative stress and the accumulation of advanced glycation end-products (AGEs), driven by hyperglycemia-related biochemical pathways, play key roles in the pathogenesis of these complications. This systematic review aims to analyze current scientific evidence regarding the mechanistic relationship between oxidative stress and AGEs in diabetic microvascular complications. Literature searches were conducted in PubMed, Scopus, ScienceDirect, and MDPI databases from 2018 to 2026 using controlled keywords. Of 1,847 identified articles, 32 met the inclusion criteria. The findings indicate that chronic hyperglycemia increases the production of reactive oxygen species (ROS) through several major pathways, including NADPH oxidase activation, mitochondrial electron transport chain dysfunction, and the polyol pathway. AGEs interact with their receptor (RAGE), activating the NF-κB pathway, which exacerbates chronic inflammation, endothelial dysfunction, and structural changes in microvascular tissues. A total of 28 out of 32 studies reported a significant correlation between AGE levels and the severity of complications. Interventions targeting oxidative stress and the AGEs–RAGE pathway show promise in slowing disease progression, highlighting the importance of mechanism-based therapeutic strategies. These findings also underscore the need for further clinical trials to evaluate the effectiveness of antioxidant and AGE-inhibiting therapies in broader clinical settings.</p> <p><strong>Keyword: </strong>Advanced Glycation End-Products; Diabetes Mellitus; Microvascular Complications; Oxidative Stress; RAGE</p>Sri Octa HandayaniKhorina Fatin BilqisShellya Puti Sudesty
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101586610.23960/jkunila.v10i1.pp58-66Knowledge, Attitudes, and Practices Toward Typhoid Fever Prevention Among Islamic Boarding School Students: A Cross-Sectional Study in Bandar Lampung, Indonesia
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3838
<p>Typhoid fever remains a major public health concern in developing countries, including Indonesia, particularly in communities characterized by inadequate sanitation and high population density, such as Islamic boarding schools. Knowledge, attitudes, and practices (KAP) play a crucial role in preventing infectious diseases, including typhoid fever. This study aimed to determine the relationship between knowledge and attitudes and typhoid fever prevention practices among students of Madarijul Ulum Islamic Boarding School in Bandar Lampung, Indonesia. An analytic observational study with a cross-sectional design was conducted involving 142 students selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using a structured questionnaire assessing respondents’ knowledge, attitudes, and preventive practices regarding typhoid fever. The instrument had been tested for validity and reliability prior to data collection. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, with the Chi-square test applied to examine associations between variables at a 95% confidence level. The results showed that 51.4% of respondents had poor knowledge, 59.9% demonstrated positive attitudes, and 62.0% exhibited inadequate typhoid fever prevention practices. Significant associations were found between knowledge and preventive practices (p=0.007; OR=2.57) and between attitudes and preventive practices (p=0.007; OR=2.27). Students with better knowledge and more positive attitudes were more likely to engage in appropriate typhoid fever prevention practices. In conclusion, knowledge and attitudes were significantly associated with typhoid fever prevention practices among Islamic boarding school students. Strengthening health education and promoting positive health behaviors are essential to improving disease prevention efforts and reducing the risk of typhoid fever transmission in boarding school settings.</p>sutarto sutartoNanda Frisila RajagukgukNanda Fitri WardaniIndri Windarti
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-03101788710.23960/jkunila.v10i1.pp78-87Perilaku Konsumsi Jamu Masyarakat Agrikultur: Literature Review
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3841
<p>Masyarakat agrikultur, terutama petani, rentan mengalami berbagai penyakit tidak menular akibat pola kerja, paparan lingkungan, dan perubahan gaya hidup. Prevalensi asam urat (gout) pada masyarakat pedesaan Indonesia mencapai sekitar 44%–47,5%, gangguan kolesterol (dislipidemia) dialami sekitar 48,7%–50% petani, sedangkan prevalensi Diabetes Melitus (DM) pada penduduk usia ≥15 tahun terus mengalami peningkatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan dan meminimalkan risiko penyakit tersebut adalah melalui konsumsi jamu sesuai aturan penggunaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perilaku konsumsi jamu pada masyarakat agrikultur serta faktor-faktor yang memengaruhi penggunaannya berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Penelitian menggunakan metode literature review dengan pendekatan scoping review. Penelusuran artikel dilakukan melalui basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar pada publikasi tahun 2020–2026. Data dianalisis menggunakan metode narrative thematic synthesis. Hasil kajian menunjukkan bahwa perilaku konsumsi jamu dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, kepercayaan terhadap manfaat dan keamanan jamu, budaya dan tradisi keluarga, ketersediaan tanaman obat, serta faktor ekonomi. Jamu dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan, meningkatkan stamina, mencegah penyakit, dan membantu pemulihan kesehatan. Penguatan edukasi kesehatan, penggunaan jamu secara rasional, serta pengembangan budidaya tanaman obat diperlukan guna mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat agrikultur secara berkelanjutan.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: konsumsi jamu, masyarakat agrikultur, tanaman obat</p>suharmantoarman suharmanto
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-031019510110.23960/jkunila.v10i1.pp95-101Potensi Umbi Rumput Teki sebagai Agen Antikanker Kolon : Literature Review
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3853
<p>Kanker kolon merupakan salah satu kanker usus yang paling sering terjadi dan menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di dunia. Penyakit ini berkembang dari polip jinak yang mengalami transformasi menjadi tumor ganas dan dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya. Penggunaan kemoterapi sebagai terapi utama kanker kolon sering menimbulkan berbagai efek samping sehingga diperlukan alternatif pengobatan yang lebih aman dan efektif, salah satunya berasal dari bahan alam. Umbi rumput teki (<em>Cyperus rotundus</em> L.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai agen antikanker. Tujuan <em>literature review</em> ini adalah mengkaji potensi umbi rumput teki sebagai agen antikanker kolon berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode yang digunakan adalah <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) dengan pencarian artikel melalui Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed menggunakan kata kunci “<em>Cyperus rotundus</em>”, “antikanker”, “anticancer”, dan “colon cancer”. Artikel yang digunakan merupakan publikasi nasional dan internasional dalam 10 tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa <em>C. rotundus</em> memiliki aktivitas antikanker yang didukung oleh kandungan flavonoid, alkaloid, saponin, seskuiterpenoid, dan minyak atsiri. Salah satu senyawa aktifnya, yaitu daidzein, dilaporkan mampu menginduksi kerusakan DNA pada sel kanker kolon HT-29 sehingga memicu apoptosis dan menghambat proliferasi sel kanker. Temuan tersebut menunjukkan bahwa umbi rumput teki berpotensi dikembangkan sebagai sumber agen antikanker kolon alami. Namun, penelitian lebih lanjut, terutama uji praklinis dan klinis, masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya pada manusia.</p> <p><strong>Kata Kunci : </strong><em>Cyperus rotundus</em> L., rumput teki, antikanker, <em>colon cancer</em>, literature review</p>Zenith Puspitawati Puspitawati
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-06-282026-06-2810119820210.23960/jkunila.v10i1.pp198-202Hubungan Uang Saku dengan Tingkat Stres pada Mahasiswa Kedokteran
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3860
<p>Stres merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang sering dialami mahasiswa, terutama mahasiswa kedokteran yang menghadapi tuntutan akademik tinggi. Selain faktor akademik, kondisi ekonomi seperti kecukupan uang saku juga dapat memengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Keterbatasan uang saku berpotensi menimbulkan tekanan psikologis akibat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan akademik maupun kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara uang saku dengan tingkat stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Penelitian dilakukan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung tahun 2025 dengan jumlah sampel sebanyak 174 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Variabel independen adalah uang saku, sedangkan variabel dependen adalah tingkat stres. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher's Exact dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Besarnya risiko dinyatakan dalam bentuk <em>Odds Ratio</em> (OR) dan <em>95% Confidence Interval</em> (95%CI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat stres normal yaitu sebanyak 168 mahasiswa (96,6%), sedangkan stres ringan dan sedang masing-masing sebanyak 4 mahasiswa (2,3%) dan 2 mahasiswa (1,1%). Berdasarkan variabel uang saku, mayoritas responden memiliki uang saku cukup sebanyak 159 mahasiswa (91,4%), sedangkan 15 mahasiswa (8,6%) memiliki uang saku kurang. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara uang saku dengan tingkat stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (p=0,009). Mahasiswa yang memiliki uang saku kurang berpeluang mengalami stres sebesar 10,6 kali dibandingkan mahasiswa yang memiliki uang saku cukup (OR=10,600; 95%CI=2,341–47,993).Terdapat hubungan yang signifikan antara uang saku dengan tingkat stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.</p>suryani daulay
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310111011510.23960/jkunila.v10i1.pp110-115The Role of Physical Activity and Sedentary Behavior on VO₂max as an Indicator of Cardiorespiratory Fitness: A Literature Review
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3882
<p>VO₂max is the primary indicator of cardiorespiratory fitness, reflecting the body's maximal capacity to uptake, transport, and utilize oxygen during physical activity. Physical activity and sedentary behavior are two important behavioral factors that influence VO₂max and cardiorespiratory fitness levels. This literature review aimed to examine the role of physical activity and sedentary behavior on VO₂max based on studies published over the last decade. The findings indicate that regular physical activity, particularly moderate-to-vigorous aerobic exercise, improves VO₂max through physiological adaptations in the cardiovascular, respiratory, and skeletal muscle systems. In contrast, high levels of sedentary behavior are associated with reduced aerobic capacity due to decreased muscular metabolic activity, impaired cardiovascular function, and an increased risk of metabolic disorders. Numerous studies have reported that individuals with higher levels of physical activity tend to have greater VO₂max values than those who are less active, whereas prolonged sedentary time is associated with lower cardiorespiratory fitness among children, adolescents, adults, and older adults. Furthermore, the negative effects of sedentary behavior may occur independently of physical activity, indicating that physically active individuals may still experience reduced fitness levels if they spend excessive amounts of time sitting. In conclusion, increasing physical activity and reducing sedentary behavior are essential strategies for improving VO₂max and cardiorespiratory fitness, thereby supporting long-term health and functional capacity.</p>Ramadhana Komala
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310112112710.23960/jkunila.v10i1.pp121-127Penggunaan Magnesium Sulfat Sebagai Tata Laksana Asma Eksaserbasi Berat
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3886
<p>Eksaserbasi asma merupakan kondisi kegawatan respirasi yang ditandai oleh peningkatan inflamasi saluran napas, bronkokonstriksi, edema mukosa, dan hipersekresi mukus sehingga menyebabkan perburukan obstruksi aliran udara. Pada sebagian pasien yang tidak responsif terhadap terapi lini pertama (bronkodilator kerja cepat, kortikosteroid sistemik, oksigenasi, dan antikolinergik inhalasi), diperlukan terapi adjuvan untuk memperbaiki obstruksi saluran napas dan mencegah perburukan lebih lanjut. Magnesium sulfat intravena direkomendasikan pada <em>Global Initiative for Asthma</em> (GINA) 2026 sebagai terapi tambahan pada eksaserbasi asma derajat berat atau refrakter pasca terapi lini pertama. Magnesium berperan sebagai penghambat kontraksi otot polos bronkus dan memiliki efek modulasi inflamasi pada kondisi eksaserbasi asma. Penggunaan magnesium sulfat intravena sebagai terapi adjuvan yang efektif pada eksaserbasi asma derajat berat harus memperhatikan beberapa kondisi yang meliputi dosis, profil keamanan, efek samping, dan pemantauan pasca administrasi obat.</p>adityo wibowo
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310113514010.23960/jkunila.v10i1.pp135-140Green Pharmacy dan Sustainability di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sistematis tentang Praktik, Tantangan, dan Arah Masa Depan
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3891
<p>Green Pharmacy merupakan pendekatan yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan lingkungan ke dalam praktik kefarmasian mencakup pengadaan, dispensing, hingga pembuangan obat. Tinjauan sistematis ini bertujuan memetakan bukti empiris Green Pharmacy di Indonesia periode 2016–2026. Pencarian dilakukan melalui Google Scholar dengan kata kunci green pharmacy, pharmaceutical waste, limbah farmasi, green hospital, dan sustainability dikombinasikan dengan Indonesia. Dari 800 rekaman yang diidentifikasi, 37 dieksklusi karena di luar rentang tahun, 675 dieksklusi pada skrining judul/abstrak, dan 60 dieksklusi setelah penilaian full text, sehingga 28 studi memenuhi kriteria inklusi. Studi mencakup manajemen limbah farmasi di rumah sakit dan Puskesmas (n=18, 64,3%), implementasi Green Hospital (n=6, 21,4%), literasi dan kebijakan Green Pharmacy (n=3, 10,7%), serta inovasi teknologi ramah lingkungan (n=1, 3,6%). Temuan utama menunjukkan kesenjangan antara regulasi dan implementasi manajemen limbah B3 farmasi, rendahnya kesadaran tenaga kesehatan terhadap pembuangan obat yang ramah lingkungan, keterbatasan infrastruktur pada fasilitas primer, dan kurangnya integrasi Green Pharmacy dalam kurikulum pendidikan. Rekomendasi strategis mencakup penguatan regulasi operasional, integrasi pembiayaan limbah ke dalam JKN, penguatan kurikulum farmasi berbasis keberlanjutan, dan edukasi publik tentang pembuangan obat.</p>M Aditya Permana
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310114815810.23960/jkunila.v10i1.pp148-158Potensi Sitotoksisitas Ekstrak Umbi Rumput Teki (Cyperus rotundus L.) terhadap Sel Kanker Serviks HeLa: Literature Review
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3898
<p>Kanker masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia salah satunya adalah kanker serviks. Kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18, yang menyebabkan gangguan regulasi siklus sel dan menghambat apoptosis. Meskipun kemoterapi masih menjadi terapi utama kanker serviks, penggunaannya sering menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan pengembangan agen antikanker baru. Pengembangan agen antikanker berbasis bahan alam menjadi alternatif yang menjanjikan karena ketersediaannya yang melimpah dan efek samping yang lebih rendah dibandingkan terapi konvensional. Umbi rumput teki (<em>Cyperus rotundus L</em>.) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker. Tujuan <em>literature review</em> ini adalah mengkaji potensi umbi rumput teki sebagai agen antikanker serviks. Metode yang digunakan adalah <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) dengan pencarian artikel melalui Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed menggunakan kata kunci “<em>Cyperus rotundus</em>”, “anticancer”, dan “cervical cancer”. Artikel yang digunakan merupakan publikasi nasional dan internasional dalam 10 tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak <em>Cyperus rotundus</em> memiliki aktivitas sitotoksik melalui mekanisme penghambatan proliferasi sel, penghentian siklus sel, peningkatan stres oksidatif, dan induksi apoptosis. Senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, seskuiterpenoid, cyperotundone, caryophyllene oxide, dan longiverbenone diduga berperan dalam aktivitas tersebut. Berdasarkan berbagai penelitian yang tersedia, ekstrak umbi rumput teki berpotensi dikembangkan sebagai kandidat agen antikanker serviks berbasis bahan alam. Namun, penelitian lebih lanjut, terutama uji praklinis dan klinis, masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya pada manusia.</p>Angelica Christy
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-06-282026-06-2810120320710.23960/jkunila.v10i1.pp203-207Praktik Pengasuhan Integratif Anak Autis di SLBN Branjangan Jember
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3901
<p><em>Parenting plays a crucial role in supporting the development and well-being of children with Autism Spectrum Disorder (ASD). This study aims to describe the implementation of integrative parenting practices for children with ASD at the Branjangan Jember Special Needs School (SLBN). Integrative parenting is an approach that combines emotional support, behavior management, educational involvement, and collaboration between families and schools to optimize child development. Data were collected through interviews and observations. The results indicate that integrative parenting practices are realized through intensive communication between parents and teachers, the implementation of structured daily routines, the use of positive behavioral reinforcement, learning support tailored to the child's individual needs, and active parental participation in school programs. Integrative parenting is an effective strategy in supporting the development of children with ASD and emphasizes the importance of synergy between families, schools, and the social environment. The findings of this study are expected to serve as a reference for educators, parents, and policymakers in developing more inclusive educational and support services for children with ASD.</em></p>Ines Pravitasari
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-06-282026-06-2810121321810.23960/jkunila.v10i1.pp213-218Perkiraan Waktu Kematian Berdasarkan Lebam Mayat
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3924
<p>Perikiraan waktu kematian atau <em>postmortem interval</em> (PMI) merupakan aspek kritis dalam kedokteran forensik. Lebam mayat (<em>livor mortis</em>) adalah perubahan pascamati dini yang dapat diobservasi lebih awal dibanding tanda-tanda lain dan memberikan informasi diagnostik yang bermakna dalam investigasi medikolegal. Tinjauan ini bertujuan mengkaji patofisiologi, stadium perkembangan, signifikansi forensik, faktor-faktor yang memengaruhi, serta perkembangan metode objektif dalam penilaian lebam mayat sebagai dasar estimasi PMI. Dilakukan tinjauan literatur naratif terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan dalam rentang tahun 2022-2025 melalui basis data PubMed/MEDLINE dan Google Scholar. Lebam mayat berkembang melalui tiga stadium, yaitu awal (0-2 jam), konfluens (2-12 jam), dan fiksasi (>12 jam), dengan peran forensik meliputi estimasi PMI, deteksi perpindahan jenazah, dan penelusuran penyebab kematian melalui karakteristik warna. Metode spektrofotometri menggunakan Antera 3D terbukti mampu mengkuantifikasi kadar hemoglobin secara objektif dan menghasilkan formula matematis untuk estimasi PMI, termasuk pada individu berkulit gelap. Lebam mayat merupakan parameter tanatochronological yang bernilai namun tidak dapat berdiri sendiri; pendekatan multiparametrik yang mengintegrasikannya dengan tanda pascamati lain merupakan standar terbaik dalam estimasi PMI yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara medikolegal.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci</strong>: lebam mayat, <em>livor mortis</em>, <em>postmortem interval</em>, kedokteran forensik, spektrofotometri.</p>Septia Eva LusinaRuben FerdianFaizah Zahrah SidikZahra Ramadhani FatwaAdrina Rizka Rahmani
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-07-032026-07-0310118218910.23960/jkunila.v10i1.pp182-189A Case Report of Bronchopneumonia in Down Syndrome Children with Severe Wasting
https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3929
<p>Bronchopneumonia remains one of the leading causes of morbidity and mortality among children worldwide. Children with Down syndrome are at a higher risk of developing respiratory tract infections due to immune dysfunction, muscle hypotonia, and various associated anatomical abnormalities. This risk may be further increased by malnutrition and incomplete immunization status. Case: We report a case of a 4-year-old boy with Down syndrome who presented with a productive cough, intermittent fever for two months, shortness of breath, rhinorrhea, and generalized weakness. Physical examination revealed characteristic phenotypic features of Down syndrome, chest wall retractions, bilateral crackles on lung auscultation, and abdominal distension. Laboratory findings showed mild normocytic normochromic anemia and mild hypoalbuminemia. Chest radiography demonstrated right suprahilar, bilateral perihilar and paracardiac infiltrates, consolidation in the right middle lung field, bilateral lower lung emphysema, and bilateral perihilar lymphadenopathy, supporting the diagnosis of bronchopneumonia. The patient was treated with ampicillin-sulbactam, gentamicin, nebulization therapy, micronutrient supplementation, and nutritional rehabilitation, resulting in clinical improvement during hospitalization. Conclusion: Bronchopneumonia in children with Down syndrome may be aggravated by malnutrition and incomplete immunization. Early diagnosis and comprehensive management are essential to achieve favorable clinical outcomes.</p>Rais Amaral HaqLuthfi Shiba AndanaSinta Nurmala SariFathian Nur DalilahShinta Nareswari
Copyright (c) 2026 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2026-06-282026-06-2810120821210.23960/jkunila.v10i1.pp208-212