Case Report Sindrom Nefrotik Resisten Steroid Relaps Jarang pada Anak Usia 5 Tahun: Laporan Kasus
Fatahillah, Elvi Suryati, Shinta Nareswari
DOI:
https://doi.org/10.23960/jkunila.v10i1.pp255-260
Abstract View: 3
Abstract
Sindrom nefrotik merupakan penyakit glomerulus yang paling sering ditemukan pada anak. Penyakit ini ditandai dengan proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema, dan hiperlipidemia. Meskipun sebagian besar pasien merespons baik terhadap terapi kortikosteroid, sekitar 10–20% kasus mengalami resistensi steroid yang berisiko meningkatkan morbiditas dan progresivitas menjadi penyakit ginjal kronik. Kami melaporkan kasus seorang anak laki-laki berusia 5 tahun 2 bulan dengan riwayat sindrom nefrotik sejak usia 1,5 tahun yang mengalami relaps setelah sebelumnya mencapai remisi dengan terapi imunosupresan. Pasien datang dengan keluhan muntah berulang, nyeri perut, oliguria, dan urine berbusa. Riwayat perjalanan penyakit menunjukkan kegagalan mencapai remisi dengan terapi prednison. Pasien kemudian didiagnosis dengan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS) dan mendapatkan terapi lanjutan berupa siklofosfamid dan siklosporin. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria masif (500 mg/dL), hipoalbuminemia berat (1,63 g/dL), hipokalsemia, hematuria mikroskopik, dan leukositosis. Pasien diberikan terapi suportif meliputi transfusi albumin, diuretik, dan antibiotik, serta melanjutkan terapi imunosupresan dan terapi antihipertensi. Selama perawatan, kondisi klinis membaik, ditandai dengan berkurangnya keluhan muntah, nyeri perut, dan edema pada wajah. Kasus ini menyoroti pentingnya pemantauan jangka panjang pada pasien SNRS karena risiko relaps tetap tinggi meskipun remisi telah tercapai. Penatalaksanaan yang tepat dan observasi berkala sangat esensial untuk mencegah komplikasi dan mempertahankan fungsi ginjal dalam jangka panjang.
Kata kunci: anak; hipoalbuminemia; proteinuria; sindrom nefrotik; sindrom nefrotik resisten steroid








