Hubungan Gejala klinis dengan Diagnosis Tuberkulosis serta Evaluasi Akurasi Skrinning pada Pasien terduga TB

Authors

  • Retno Ariza Soeprihatini Soemarwoto Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi . Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

DOI:

https://doi.org/10.23960/jkunila.v10i1.pp320-328
Abstract View: 14

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia dan di Provinsi Lampung. Penelitian kohort retrospektif ini mengevaluasi skrining TB berbasis gejala di Klinik Harum Melati menggunakan data rekam medis Januari sampai Desember 2025. Sebanyak 119 rekam medis dianalisis. Gejala yang dinilai terdiri atas satu gejala mayor, yaitu batuk lebih dari dua minggu, serta gejala minor/pendukung berupa demam lebih dari dua minggu, keringat malam, penurunan berat badan, batuk darah, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala yang berhubungan secara signifikan dengan status TB adalah batuk lebih dari dua minggu (chi-square=9,821; p=0,020). Dengan TB aktif sebagai baku acuan, skrining WHO minimal satu gejala memiliki sensitivitas tinggi (96,2%) tetapi spesifisitas rendah (7,1%). Spesifisitas rendah karena kriteria ini memang luas: setiap gejala respiratorik atau sistemik dihitung sebagai positif skrining, sehingga pasien tanpa TB aktif tetapi memiliki keluhan tidak khas juga dapat ikut tersaring positif. Batuk saja memiliki sensitivitas 92,4% dan spesifisitas 21,4%. Skrining gejala bermanfaat untuk penemuan kasus dini, tetapi hasil positif tetap memerlukan pemeriksaan diagnostik konfirmasi. Temuan ini mendukung optimasi skrining lokal di layanan primer.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-09-21

How to Cite

Soemarwoto, R. A. S. (2026). Hubungan Gejala klinis dengan Diagnosis Tuberkulosis serta Evaluasi Akurasi Skrinning pada Pasien terduga TB. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung, 10(1), 320–328. https://doi.org/10.23960/jkunila.v10i1.pp320-328

Issue

Section

Home Page

Most read articles by the same author(s)