Pola Peresepan Terapi Hipertensi – Sebuah Tinjauan Literatur Mengenai Pola Penggunaan Obat.
DWI ISMAYATI
DOI:
https://doi.org/10.23960/jkunila.v10i1.pp13-15
Abstract View: 0
Abstract
Hipertensi merupakan tantangan kesehatan global yang signifikan dengan prevalensi di Indonesia mencapai 34,5%.
Perubahan kriteria diagnosis menurut panduan AHA/ACC 2017 (>130/80 mmHg) serta tingginya risiko komplikasi
kardiovaskular menuntut ketepatan dalam pemilihan terapi farmakologis untuk menekan angka morbiditas dan
mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pola penggunaan obat antihipertensi melalui studi literatur dari
berbagai fasilitas kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode tinjaun literatur. Pencarian artikel dilakukan melalui
basis data PubMed, Google Scholar, Scopus, Web of Science, dan ScienceDirect untuk publikasi berbahasa Inggris dan
Indonesia dalam rentang waktu 2016–2024. Kriteria inklusi meliputi studi orisinal mengenai pola penggunaan
antihipertensi pada pasien rawat inap maupun rawat jalan. Dari 2.476 artikel yang teridentifikasi, 16 studi memenuhi
kriteria analisis. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa Calcium Channel Blockers (CCB), khususnya Amlodipin,
merupakan golongan obat yang paling dominan digunakan sebagai monoterapi dengan prevalensi berkisar antara
31,18% hingga 68,5%. Pada pola terapi kombinasi, sinergi antara CCB dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB), seperti
kombinasi Amlodipin dan Candesartan, menjadi pilihan utama di berbagai instansi (36,6%–58,06%). Pasien rawat inap
menunjukkan kecenderungan penggunaan terapi kombinasi yang jauh lebih tinggi (96,43%) dibandingkan pasien
rawat jalan. Kesimpulan: Pola penggunaan antihipertensi di Indonesia didominasi oleh golongan CCB (Amlodipin)
sebagai monoterapi dan kombinasi CCB-ARB sebagai terapi kombinasi terapi.
Kata kunci: Antihipertensi, Pola Penggunaan Obat, CCB, ARB, Studi Literatur.








