Sindrom Obstructive Sleep Apnea

William Bahagia, Putu Ristyaning Ayu

Abstract


Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan kelainan dan bagian dari sleepĀ¬-disorder breathing syndrome yang kompleks. Gejala OSA sering terjadi, namun sulit untuk dideteksi. OSA yang tidak mendapatkan tatalaksana dengan baik, dapat menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang. OSA merupakan suatu keadaan terjadinya obstruksi jalan nafas atas secara periodik selama tidur yang menyebabkan nafas berhenti secara intermiten, baik komplit (apnea) atau parsial (hipoapnea). Kondisi ini dikarakteristikkan terjadi di saluran nafas atas (utamanya pada orofaring) sehingga terjadi penurunan aliran udara. Gejala OSA dikelompokkan menjadi gejala malam dan gejala siang hari. Episode rekuren apnea, intermiten hipoksia dan fragmentasi tidur dapat memengaruhi fungsi organ terutama sistem saraf pusat dan kardiovaskuar sehingga terjadi perubahan keseimbangan metabolik. Baku emas diagnosis OSA adalah melalui pemeriksaan tidur malam dengan alat Polysomnography/PSG). Biasanya indeks yang digunakan untuk mengetahui derajat ringan-buruk OSA adalah Apnea-Hipoapnea Index (AHI), yaitu menghitung jumlah peristiwa obstruktif per jam selama tidur dan hasil monitoring kardiorespirasi. Penatalaksanaan OSA terdiri dari terapi bedah dan terapi non-bedah. Positive airway pressure (PAP) diketahui merupakan terapi baku emas untuk OSA. Artikel ini merupakan suatu studi literatur untuk membahas patofisiologi, faktor risiko, tanda dan gejala, hingga penanganan dan pencegahan OSA.
Kata kunci: obstructive sleep apnea, hipoapnea apnea-hipoapnea index, positive airway pressure

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.