Glaukoma dan Kebutaan yang Diinduksi Steroid pada Kasus Keratokonjungtivitis Vernal : Sebuah Manajemen Terapi

Zeni Okta Wiyani

Abstract


Vernal Keratoconjunctivitis (VKC) merupakan penyakit alergi kronik bilateral sering terjadi pada anak – anak yang dimediasi sel IgE. Sekitar 2 – 7% pasien VKC menjadi glaukoma akibat penggunaan steroid topikal jangka panjang. Glaukoma sekunder yang diinduksi steroid merupakan glaukoma sudut terbuka. Kortikosteroid jangka panjang menyebabkan aliran di trabekular meshwork terganggu akibat edema biologis. Diagnosis VKC ditandai pada segmen anterior didapatkan penebalan limbus; Trantas dots; dan keratitis pungtata superfisial. Gonioskopi membantu penegakan diagnosis glaukoma apabila TIO > 22mmhg, dan tajam penglihatan serta disc cup ratio >0,9 membantu menegakkan adanya kebutaan. Manajemen terapi glaukoma awalnya berupa pemantauan kenaikan TIO dalam 2 minggu pertama, dilanjutkan tiap 4 minggu selama 2-3 bulan. Terapi medikamentosa berupa obat anti glaukoma seperti penghambat-beta topikal, penghambat-alfa, prostaglandin analog, dan inhibitor karbonik anhidrasi (asetazolamid). Obat tacrolimus dan cyclosporine secara efektif sebagai terapi pada VKC, namun seorang dokter oftalmologi sering memberikan steroid sebagai terapi pertama pada VKC. Terapi laser digunakan apabila kegagalan terapi medikamentosa. Pilihan terakhir berupa pembedahan seperti trabekulektomi, trabekulotomi dan implant dilakukan dalam mencegah terjadinya kebutaan. Diperkirakan bahwa 80% dari dokter spesialis mata di India mungkin tidak mencatat TIO atau memeriksa disc cup ratio sebagai bagian dari pemeriksaan komprehensif.
Kata Kunci: Glaukoma, kebutaan, managemen terapi, steroid, vernal keratokonjungitivitis (VKC)

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.