Pengaruh Paparan Asap Rokok terhadap Kadar Hormon Adiponektin sebagai Faktor Risiko Terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2

Shenia Verinda Harsa

Abstract


Rokok mengandung bahan kimia yang berpotensi merusak tubuh manusia. Ada sekitar 7.000 bahan kimia yang terkandung di dalam asap rokok, 250-nya diketahui merupakan komponen berbahaya dan 69-nya bersifat karsinogenik. Merokok merupakan faktor risiko masalah kesehatan, yaitu penyakit kardiovaskular, paru, neoplasma, dan penyakit endokrin. Kebiasaan merokok berhubungan dengan terjadinya hipoadiponektinemia. Adiponektin berperan dalam sensitasi insulin melalui berbagai mekanisme. Nikotin yang terkandung dalam rokok dapat beredar ke dalam pembuluh darah dan dapat menginduksi terjadinya stres oksidatif. Hal ini ditandai dengan peningkatan TNFα dan IL-6 pada sel adiposit. TNFα dapat menekan transkripsi adiponektin dengan dimediasi oleh c-Jun N-terminal kinase (JNK) yang memfosforilasi PPARγ sehingga menurunkan aktivitas pengikatan DNA-nya. Secara fisiologis, PPARγ terlibat dalam penyusunan dan sekresi protein chaperonin, ErolLα dan DsbA-L. Ero1-L𝛼 dapat meningkatkan sekresi dari adiponektin HMW dan DsbA-L berfungsi sebagai isomerase protein disulfida yang dapat mengatur pembentukan ikatan disulfida adiponektin untuk multimerisasi. Penurunan sekresi ErolLα dan DsbA-L dapat menurunkan kadar adiponektin. Sitokin IL-6 dapat menekan transkripsi adiponektin secara in vitro pada sel adiposit 3T3-L1. Penurunan kadar adiponektin akan menurunkan aktivasi IRS 1/2 yang merupakan jalur pensinyalan utama dalam mekanisme sensitasi insulin oleh adiponektin, sehingga akan terjadi resistensi insulin. Hal tersebut menunjukkan kandungan nikotin pada rokok menyebabkan penurunan kadar adiponektin plasma sehingga terjadi resistensi insulin, dengan demikian merokok menjadi salah satu faktor risiko terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2.
Kata kunci: merokok, nikotin, resistensi insulin, hipoadiponektinemia, Diabetes Melitus tipe 2

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.