Efek Protektif Pemberian Ekstrak Etanol 96% Bekatul Beras Merah Terhadap Jumlah Rerata Spermatosit Primer dan Ketebalan Tubulus Seminiferus Tikus Putih Jantan Galur Sprague dawley yang Terpapar Asap Rokok Kretek

Nandya Dwizella, Soraya Rahmanisa, Ratna Dewi Puspita Sari

Abstract


Paparan asap rokok dapat menyebabkan stres oksidatif yang dapat menghambat spermatogenesis sehingga meningkatkan infertilitas. Bekatul merupakan limbah dari penggilingan padi yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek protektif pemberian ekstrak etanol 96% bekatul beras merah terhadap jumlah rerata spermatosit primer dan ketebalan tubulus seminiferus tikus yang terpapar asap rokok kretek. Penelitian eksperimental dengan menggunakan 25 ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu K(-) tidak diberi perlakuan, K(+) diberi paparan asap rokok, P1 diberi paparan asap rokok dan ekstrak etanol 96% bekatul beras merah dosis 100 mg/KgBB, P2 diberi paparan asap rokok dan ekstrak etanol 96% bekatul beras merah dosis 200 mg/KgBB dan P3 diberi paparan asap rokok dan ekstrak etanol 96% bekatul beras merah dosis 400 mg/KgBB. Perlakuan dilakukan selama 30 hari. Jumlah rerata spermatosit primer K(-), K(+), P1, P2 dan P3 adalah 113,6±47; 50,7±5,0; 112,7±9,4; 107,3±5,6; 109,4±5,3. Ketebalan tubulus seminiferus pada K(-), K(+), P1, P2 dan P3 adalah 249,9±12,5; 209,7±6,3; 244,8±19,3; 246,8±11,2; 239,5±5,9. Data dianalisis dengan uji One Way Anova didapatkan hasil p=0,00 (p<0,05). Uji Posthoc menunjukkan perbedaan nyata antara K(+) dengan K(-), P1, P2, P3. Pemberian ekstrak etanol 96% bekatul beras merah dapat mencegah berkurangnya jumlah rerata spermatosit primer dan ketebalan tubulus seminiferus tikus putih yang terpapar asap rokok kretek.
Kata kunci : asap rokok, bekatul, ketebalan tubulus seminiferus, spermatosit primer

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.