Efek Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap Methicilin Resisten Staphylococcus aureus (MRSA)

Alexander Dicky K. N

Abstract


Methicilin Resistance Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan bakteri Staphylococcus aureus yang telah resisten dengan antibiotik golongan methicilin. Determinan resistensi utama pada MRSA adalah gen mecA yang terdapat di dalam
Staphylococcal Cassette Chromosome mec (SCCmec). Wabah MRSA pertama kali terjadi di Eropa pada era tahun 1960-an, kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai rumah sakit di seluruh dunia sehingga MRSA sering disebut Healthcare associated MRSA (HA-MRSA). Bakteri ini bersifat multiresisten. Rerata prevalensi di dunia berkisar 20-40% dan prevalensi di Indonesia diperkirakan mencapai 46%. Pada tahun 1998, di Amerika dilaporkan adanya penemuan baru galur MRSA yaitu Community-Associated MRSA (CA-MRSA) yang bersifat nonmultiresisten tetapi lebih virulen dibandingkan dengan HAMRSA. Saat ini hanya vankomisin dan sedikit pilihan antimikroba yang digunakan untuk mengatasi MRSA dan tentunya tidak
murah. Ekstrak temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) berdasarkan berbagai penelitian memiliki berbagai macam manfaat, salah satunya sebagai antimikroba. Hal ini disebabkan karena kandungan curcuminoid dan minyak atsiri dalam temulawak
dapat menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri, sebagai contoh adalah Staphylococcus aureus, Eschericia coli, dan juga jamur Aspergillus niger.
Kata kunci: Methicilin Resistance Staphylococcus aureus (MRSA), Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb)

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.