Pengaruh Boraks Terhadap Sistem Reproduksi Pria

Dyah Kartika Utami

Abstract


Boraks sebagai pengawet makanan masih banyak digunakan oleh para penjual  makanan. Boraks adalah mineral dengan toksisitas rendah yang memiliki efek insektisidal. Boraks biasanya digunakan dalam industri deterjen dan kosmetik, kaca,
dan keramik. Penggunaan boraks sebagai bahan tambahan pangan sudah dilarang oleh pemerintah karena berbahaya bagi kesehatan. Efek akut boraks antara lain adalah mual muntah, nyeri abdomen, dan diare. Sedangkan efek kronis boraks adalah gangguan reproduksi dan perkembangan, neurotoksik, dan nefrotoksik. Pada sistem reproduksi, boraks dapat mengganggu testis dan testosteron. Hasil penelitian dengan hewan coba menunjukkan adanya deskuamasi epitel germinal, penyempitan diameter tubulus seminiferus, hambatan pada spermiasi, atrofi testis, dan penurunan kadar testosteron di sirkulasi. Boraks dapat menyebabkan stres oksidatif. Terdapat banyak teori bagaimana boraks dapat merusak sistem reproduksi. Pemberian boraks akan menyebabkan inflamasi yang menginduksi ekspresi berlebihan siklooksigenase-2 (COX-
2) yang akan menurunkan kadar testosteron. Penurunan kadar testosteron menyebabkan disorganisasi sel spermatogenik dan sel Sertoli. Ditemukannya vakuolisasi pada gambaran histopatologi mengindikasikan adanya kerusakan specific junction antara sel spermatogenik dan sel Sertoli. Keadaan ini berhubungan dengan atrofi testis. Hitung jumlah sperma didapatkan menurun dengan kadar fruktosa seminal yang tinggi. Efek boraks yang mengganggu kadar sirkulasi testosteron,
menghambat spermiasi, rusaknya specific junction, penurunan jumlah sperma, hingga atrofi testis dapat menyebabkan infertilitas pada pria.
Kata kunci: boraks, infertilitas, reproduksi, testosteron, tubulus seminiferus

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.