Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK
<p align="justify"><strong>JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung) </strong>is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update. <strong>JK Unila</strong> is intended to ensure that only good paper is published. All incoming manuscripts are peer-reviewed at least 2 (two) reviewers, before being accepted for publication. The reviewers remain anonymous to the author throughout and following the refereeing process. At the same time, the identity of the author is also unknown to the reviewers. Each manuscript is basically reviewed by two reviewers. The criteria which are asked reviewers i.e. the originality, clarity of of the method and the result, correctly cied previous relevant work. The common time for refereeing process is approximately 4 week. Reviewers are carefully selected from the nationally university and research community.</p>Fakultas Kedokteranen-USJurnal Kedokteran Universitas Lampung2614-6991<strong>Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila)</strong> <span> is licensed under a </span><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License</a><span>.</span>Penggunaan Finerenone pada Tatalaksana Penyakit Ginjal Kronik dengan Komorbiditas Diabetes Melitus Tipe 2: Sebuah Tinjauan Pustaka
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3667
<p>Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan kelainan struktural atau fungsional ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan dan memiliki implikasi terhadap kesehatan. Salah satu faktor risiko utama PGK adalah diabetes melitus tipe 2, di mana hiperglikemia kronik menyebabkan aktivasi sistem renin–angiotensin–aldosteron (RAAS), stres oksidatif, inflamasi, dan fibrosis yang berujung pada penurunan fungsi ginjal progresif. Meskipun terapi konvensional berbasis penghambatan RAAS telah menjadi standar tatalaksana, risiko progresivitas PGK dan kejadian kardiovaskular tetap tinggi. Finerenone, antagonis reseptor mineralokortikoid (MRA) nonsteroid selektif, menunjukkan manfaat klinis yang signifikan melalui efek renoprotektif dan kardioprotektif tanpa peningkatan bermakna terhadap risiko efek samping berat. Berdasarkan hasil berbagai uji klinis besar seperti FIDELIO-DKD, FIGARO-DKD, dan analisis gabungannya (FIDELITY), finerenone terbukti menurunkan risiko penurunan laju filtrasi glomerulus terestimasi (eGFR), gagal ginjal terminal, serta kejadian kardiovaskular mayor seperti infark miokard nonfatal dan gagal jantung. Efek terapeutik ini bersifat konsisten pada berbagai kelompok pasien, termasuk mereka yang menggunakan inhibitor SGLT2, serta independen terhadap kontrol glikemik dan resistensi insulin. Walaupun terdapat peningkatan risiko hiperkalemia, kejadian tersebut umumnya ringan, dapat diprediksi, dan dapat dikelola melalui pemantauan kadar kalium secara berkala. Dengan demikian, finerenone merupakan terapi tambahan yang efektif dan aman pada pasien PGK dengan diabetes melitus tipe 2, dengan potensi memperlambat progresi penyakit ginjal serta menurunkan risiko kejadian kardiovaskular jangka panjang.</p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Kata kunci:</strong> penyakit ginjal kronik, diabetes melitus, finerenone</p>Faizah Zahrah SidikEvi KurniawatyMiftahur RohmanSyazili Mustofa
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279212713210.23960/jkunila.v9i2.pp127-132The Growing Burden of Climate Change and Air Pollution on COPD Morbidity and Mortality
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3701
<p>Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) arises from interactions between genetic susceptibility and long-term exposure to harmful particles or gases. While smoking is known as the primary risk factor, environmental and occupational pollutants (particulate matter, biomass smoke, and diesel emissions) significantly contribute to disease development and progression. Climate change further worsens COPD by increasing ambient particulate matter, ground-level ozone, and extreme temperature events. These exposures induce oxidative stress, airway inflammation, mucus hypersecretion, and structural lung injury, leading to accelerated lung function decline and more frequent exacerbations. Extreme heat and cold further increase hospitalization and mortality in COPD patients, while indoor environmental factors driven by air-conditioning use, humidity, and poor ventilation exacerbate the symptoms. These findings highlight the growing impact of environmental pollution and climate change on COPD burden worldwide.</p>adityo wibowo
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-262025-12-269231131710.23960/jkunila.v9i2.pp311-317Pertusis, Batuk 100 Hari yang Terlupakan: Sebuah Laporan Kasus
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3704
<p>Pertusis atau yang dikenal sebagai batuk rejan merupakan penyakit infeksi saluran napas akut yang disebabkan oleh bakteri <em>Bordetella pertussis</em>. Penyakit ini bersifat sangat menular dan ditandai dengan episode batuk paroksismal yang panjang dengan sekret saluran napas yang sangat kental dan disertai <em>respiratory cough</em>. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa pada tahun 2023 terdapat peningkatan 5,4 kali lipat suspek pertusis dibandingkan tahun sebelumnya dengan sebagian besar kasus terjadi pada bayi berusia di bawah satu tahun (38 %). Seorang anak laki-laki usia 1 tahun 2 bulan datang dengan keluhan batuk berdahak dengan dahak yang sulit dikeluarkan disertai dengan demam yang hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva tampak anemis dan ronkhi bilateral tanpa wheezing maupun retraksi dinding dada. Pemeriksaan darah didapatkan penurunan kadar hemoglobin, leukositosis, dan trombositosis. Pemeriksaan rontgen thorax menunjukkan gambaran bronkopneumonia dextra. Dilakukan penatalaksanaan berupa antibiotik golongan makrolida yang dikombinasikan dengan antibiotik golongan sefalosporin. Pertusis pada pasien ini disebabkan oleh riwayat penyakit keluarga dengan kakak pasien yang mengalami keluhan serupa. Pertusis adalah kasus yang terlupakan tentang batuk yang berkepanjangan. Setelah pandemi Covid-19, peningkatan kasus pertusis kembali teridentifikasi sehingga tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Upaya pencegahan pertusis berfokus pada pelaksanaan imunisasi yang efektif dan penguatan surveilans epidemiologis secara berkelanjutan. </p> <p><strong>Kata</strong> <strong>Kunci:</strong> Pertusis pada anak, batuk rejan, batuk 100 hari</p>Skolastika Faustina Ivana AriefOktadoni SaputraDiva Ardhana KurniawanFidela Anindya Atha
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279214915510.23960/jkunila.v9i2.pp149-155Gambaran Gaya Hidup Petani penderita GERD
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3706
<p>Angka kejadian <em>Gastroesophageal Reflux Disease</em> (GERD) masih tinggi di dunia dan Indonesia. Kondisi ini dapat disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan gaya hidup pada petani yang mengalami GERD. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian di Desa Marga Agung Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan bulan April-Mei 2025. Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh masyarakat di Desa Marga Agung, pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Variabel penelitian meliputi aktivitas fisik, pola makan, merokok, konsumsi jamu, dan konsumsi alkohol. Alat pengumpul data dalam penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data dengan menyajikan persentase masing-masing variabel. Sebagian besar responden adalah berumur 41-60 tahun (46,7%), perempuan (84,4%) dan pendidikan SMA (35,6%). Sebagian besar responden melakukan aktivitas ringan (51,1%), pola makan baik (91,1%), tidak merokok (88,9%), tidak konsumsi jamu (64,4%) dan tidak konsumsi alkohol (100,0%).</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci</strong>: gaya hidup, GERD, petani.</p>suharmantoarman suharmanto
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279216016410.23960/jkunila.v9i2.pp160-164Mitokondria sebagai Penentu Umur Sel: Tinjauan Pustaka Peran mtDNA pada Aging dan Penyakit Degeneratif
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3708
<p>Penuaan merupakan proses biologis yang kompleks dan progresif, ditandai oleh penurunan fungsi seluler, hilangnya homeostasis, serta meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit degeneratif. Di antara berbagai mekanisme molekuler yang terlibat, mitokondria memegang peran sentral sebagai pengatur umur sel melalui produksi energi, kontrol redoks, sinyal inflamasi, serta mekanisme kematian sel terprogram. DNA mitokondria (mtDNA), yang berada di dalam organel tersebut, memiliki sifat unik seperti tingginya tingkat mutasi, ketiadaan proteksi histon, kedekatan dengan sumber pembentukan ROS, serta keterbatasan sistem perbaikan DNA. Faktor-faktor ini membuat mtDNA sangat rentan mengalami kerusakan dan akumulasi mutasi seiring bertambahnya usia. Akumulasi mutasi mtDNA, variasi jumlah salinan, perubahan heteroplasmi, serta disrupsi dinamika mitokondria berkontribusi terhadap penurunan fungsi rantai transpor elektron, gangguan respirasi seluler, peningkatan stres oksidatif, dan inflamasi kronis tingkat rendah (inflammaging). Konsekuensi ini telah dikaitkan dengan patogenesis berbagai kondisi degeneratif, termasuk penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson, penyakit kardiovaskular akibat kegagalan produksi energi, serta sarkopenia sebagai akibat dari menurunnya biogenesis mitokondria pada jaringan otot rangka. Tinjauan ini merangkum bukti ilmiah terbaru yang menyoroti peran kunci mtDNA dalam proses penuaan dan perkembangan penyakit degeneratif, serta menekankan pentingnya intervensi berbasis mitokondria sebagai strategi potensial untuk memperlambat penuaan dan meningkatkan kesehatan pada usia lanjut.</p>Sri Octa Handayani
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279217017710.23960/jkunila.v9i2.pp170-177Peran Antioksidan Daun Kelor (Moringa oleifera) dalam Mencegah Kerusakan Folikel Ovarium: Literature Review
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3710
<p>Ovarium merupakan organ reproduksi utama pada wanita yang sangat rentan terhadap kerusakan oksidatif akibat akumulasi radikal bebas. Kondisi ini dapat memicu apoptosis sel granulosa, peroksidasi lipid, serta penurunan kualitas dan jumlah folikel, sehingga mengganggu fungsi reproduksi. <em>Moringa oleifera</em> (daun kelor) menjadi fokus penelitian karena kandungan polifenol dan flavonoidnya, seperti <em>Kaempferol</em> dan <em>quercetin</em> , yang berperan sebagai penangkap radikal bebas serta meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti SOD dan GSH. Berbagai studi in vivo dan in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun <em>M. oleifera</em> mampu menurunkan kadar MDA, ROS, dan caspase-3, memperbaiki histologi folikel ovarium, serta menurunkan sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6, IL-8). Mekanisme molekulernya melibatkan aktivasi jalur Nrf2 yang meningkatkan ekspresi gen protektif seperti NQO1 dan HO-1 serta memperkuat sistem glutation, sehingga menstabilkan redoks seluler dan melindungi jaringan ovarium. Pada model PCOS, evaluasi morfometri menunjukkan peningkatan diameter folikel Graaf, bobot ovarium, dan penurunan degenerasi lapisan theca. Empat studi terbaru (2025) mengonfirmasi efek antioksidan, anti-inflamasi, dan anti-apoptotik <em>M. oleifera</em> yang meningkatkan viabilitas sel granulosa. Meskipun menjanjikan, sebagian besar bukti masih berasal dari model hewan, sehingga diperlukan penelitian lanjutan pada manusia untuk menentukan dosis, keamanan, dan efektivitas. Temuan ini mendukung potensi <em>Moringa oleifera</em> sebagai agen pelindung folikel ovarium bagi kesehatan reproduksi wanita</p>khorina Fatin Bilqis
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279218419010.23960/jkunila.v9i2.pp184-190P Peran Edukasi dan Konseling Terhadap Kepatuhan dan Kualitas Hidup Pasien Artritis Reumatoid
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3713
<p>Artritis reumatoid merupakan penyakit kronis yang menyebabkan penurunan fungsi fisik, penurunan kualitas hidup (QoL), dan penurunan kemampuan kerja pasien, serta peningkatan biaya sosial ekonomi. Ketidakpatuhan pengobatan merupakan salah satu faktor yang dapat memperburuk penyakit artritis reumatoid. Kajian literatur ini bertujuan untuk membahas peran intervensi edukasi dan konseling terhadap kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup pada pasien artritis reumatoid. Studi tinjauan literatur ini dilakukan melalui penelusuran daring menggunakan database seperti PubMed, DOAJ (<em>Directory Of Open Access Journals</em>) dan Google Scholar, dengan kata kunci yang telah ditentukan. Didapatkan 11 artikel yang menunjukkan peran intervensi edukasi dan konseling terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien artritis reumatoid. Pendekatan intervensi edukasi dan konseling memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan kepatuhan pengobatan pada pasien artritis reumatoid, dan berdampak positif terhadap respon terapi dan kualitas hidup (QoL) pasien. Peran intervensi edukasi dan konseling, baik melalui media cetak, teknologi digital, maupun pendekatan langsung oleh tenaga kesehatan terbukti mampu meningkatkan kepatuhan pengobatan pada pasien artritis reumatoid. Kepatuhan yang baik dapat menekan risiko progresivitas penyakit serta mendukung perbaikan kondisi klinis.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Artritis Reumatoid, Edukasi dan Konseling, Kepatuhan Pengobatan, Kualitas Hidup</p>Bella Puspita
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279219820710.23960/jkunila.v9i2.pp198-207Faktor Sosial Ekonomi dan Perilaku Makan Balita: Kajian Hubungan antara Pekerjaan Ibu dan Pendapatan Keluarga
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3715
<p>Eating behavior in toddlers is an essential factor in supporting the growth and development of early childhood, as this period represents the golden age that determines a child’s future health and intelligence. Poor eating patterns and behaviors may lead to nutritional problems, including both undernutrition and overnutrition, which can have long-term impacts on children’s health. One of the factors influencing toddlers’ eating behavior is the family’s socioeconomic condition, particularly the mother’s employment status and family income level. Mothers play a central role in regulating meal patterns and providing nutritionally balanced food for their children. This study aimed to determine the relationship between maternal employment and family income with eating behavior among toddlers aged 6-59 months in Pekon Klaten, Gadingrejo Subdistrict, Pringsewu Regency. The research employed a descriptive analytic design with a cross-sectional approach. The independent variables included maternal employment and monthly family income, while the dependent variable was toddler eating behavior. The data analysis showed a significant relationship between maternal employment and toddler eating behavior (p = 0.013), but no significant relationship between family income and toddler eating behavior (p = 0.442). These findings indicate that maternal involvement in childcare and feeding practices has a greater influence on toddlers’ eating behavior than family economic factors.</p> <p><strong>Keywords:</strong> eating behavior, toddlers, maternal employment, family income, socioeconomic factors</p>Eka Putri Rahmadhani
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279221421810.23960/jkunila.v9i2.pp214-218Mekanisme Respons Imun terhadap Infeksi Sekunder pada Severe Dengue: Sebuah Tinjauan Pustaka
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3718
<p><em>Dengue</em> merupakan salah satu penyakit infeksi <em>arbovirus</em> (<em>arthropod-borne virus</em>) yang ditemukan pada sekitar 100 negara baik tropis maupun subtropis di seluruh dunia. Mekanisme yang menyebabkan timbulnya keparahan bahkan berujung pada kematian dalam infeksi DENV (<em>severe Dengue</em>) masih belum dipahami secara baik. Meskipun demikian, beberapa penelitian yang berkaitan dengan respons imun di dalam tubuh dan peranannya dalam infeksi <em>severe</em> <em>Dengue</em> telah banyak dilakukan. Hipotesis umum yang paling dapat diterima untuk terjadinya <em>severe Dengue</em> adalah infeksi sekunder yang disebabkan oleh serotipe DENV yang berbeda. Sel-T memori yang terbentuk selama infeksi primer dapat bereaksi dengan cepat, tetapi memiliki efektivitas yang lebih rendah daripada sel-T <em>naïve</em> selama proses infeksi sekunder non-spesifik terjadi. Proses tersebut mengakibatkan terjadinya respons imun yang tidak efisien dengan deregulasi produksi <em>cytokine</em>. Teori tersebut juga dikenal dengan istilah <em>original antigenic sin</em>. Hipotesis lainnya yang juga masih berkaitan dengan <em>original antigenic sin</em>, yaitu <em>Antibody Dependent Enhancement</em> (ADE). Berdasarkan teori ADE, non-spesifik antibodi yang diproduksi selama proses infeksi sekunder dengan serotipe heterologous mengakibatkan serapan dan replikasi virus yang lebih tinggi di dalam sel target, seperti yang terjadi pada sel monosit melalui reseptor Fc. Pemahaman yang baik mengenai kedua hipotesis tersebut dapat sangat bermanfaat untuk memahami kejadian DHF/DSS pada infeksi DENV.</p>Maya Ulfah
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-282025-12-289231832710.23960/jkunila.v9i2.pp318-327Remediasi Pencapaian Mahasiswa di Pendidikan Kedokteran
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3720
<p>Setiap institusi pendidikan akan dihadapkan dengan adanya mahasiswa yang belum mencapai standar pendidikan yang sudah ditetapkan. Mahasiswa pencapaian rendah saat awal pendidikan menentukan keberhasilan mahasiswa untuk tahap selanjutnya sehingga diperlukan remediasi untuk mendukung mahasiswa mencapai standar yang sudah ditetapkan tersebut. Berbagai metode remediasi diusulkan oleh para ahli pendidikan. Metode yang digunakan antara lain dengan refleksi, keterampilan pembelajaran sepanjang hayat, identifikasi mahasiswa, professional development comitte, student support system dan sebagainya. Institusi pendidikan dapat mengembangkan metode remediasi berdasarkan kerangka konsep pendidikan yang sesuai.</p>Rika Lisiswanti
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279223223710.23960/jkunila.v9i2.pp232-237Literatur Review : Analisis Perbandingan Kejadian Drug Related Problems (DRPs) Antara Pelayanan Kesehatan Primer Dan Sekunder Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe-2
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3722
<p><em>Drug Related Problems</em> (DRPs) merupakan salah satu permasalahan utama pada terapi pasien diabetes melitus tipe 2 (DM tipe-2) yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup pasien. Perbedaan sistem dan fasilitas antara pelayanan kesehatan primer dan sekunder diduga memengaruhi karakteristik serta frekuensi kejadian DRPs. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kejadian DRPs antara pelayanan kesehatan primer dan sekunder pada pasien DM tipe-2 di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi tinjauan literatur dengan pendekatan deskriptif-komparatif terhadap sepuluh artikel penelitian yang diterbitkan pada rentang tahun 2017–2025, terdiri dari lima artikel dari fasilitas primer dan lima artikel dari fasilitas sekunder. Data dianalisis berdasarkan frekuensi, jenis, serta penyebab DRPs yang dilaporkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kejadian DRPs di pelayanan sekunder cenderung lebih tinggi, yaitu antara 53,8% hingga 96%, dengan interaksi obat sebagai jenis DRP yang paling dominan. Sedangkan pada pelayanan primer, kejadian DRPs berkisar antara 28% hingga 94%, dengan dominasi masalah kebutuhan terapi belum terpenuhi, terapi tidak diperlukan, dan pemilihan obat yang tidak tepat. Perbedaan ini terkait dengan kompleksitas kasus, jumlah obat yang digunakan, serta keterbatasan sumber daya dan sistem monitoring di masing-masing tingkat pelayanan. Kesimpulan dari studi ini adalah DRPs ditemukan signifikan di kedua tingkat pelayanan dengan pola berbeda. Penguatan layanan farmasi klinik dan kolaborasi interprofesional diperlukan untuk meminimalkan DRPs dan meningkatkan efektivitas terapi pasien DM tipe-2.</p>Ayu Kristin Manik
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279224325210.23960/jkunila.v9i2.pp243-252Ctenocephalides felis sebagai Ektoparasit: Biologi dan Potensi Zoonosis
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3726
<p><em>Ctenocephalides felis</em> merupakan ektoparasit yang paling umum ditemukan pada kucing dan anjing dengan kemampuan adaptasi yang tinggi dan distribusi yang luas pada lingkungan peridomestik. Review ini membahas tentang aspek biologi dan morfologi <em>C. felis</em> termasuk perkembangan telur, larva, pupa dan dewasa, serta peranannya sebagai vektor berbagai patogen. Secara klinis, infestasi <em>C. felis</em> dapat menyebabkan pruritus, dermatitis alergi (FAD), lesi kulit, dan anemia pada kasus berat. Selain dampak langsung pada kesehatan <em>C. felis</em> berpotensi sebagai vektor dalam penularan patogen zoonotik seperti <em>Rickettsia</em> spp. dan <em>Bartonella</em> spp. Pentingnya pendekatan pengendalian terpadu yang mencakup terapi pada hewan, sanitasi lingkungan, dan pemantauan kesehatan pada hewan peliharaan (kucing dan anjing). </p> <p> </p>Putri Damayanti
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279225225510.23960/jkunila.v9i2.pp252-255Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan Status Gizi pada Remaja Puteri
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3729
<p>Masalah gizi pada remaja puteri berdampak pada kesehatan jangka panjang. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) penting untuk mencapai status gizi optimal yang mendukung pertumbuhan fisik dan Kesehatan remaja puteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara PHBS dan status gizi pada remaja puteri di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em> melibatkan 86 remaja puteri yang dipilih secara purposive sampling dengan kriteria inklusi remaja putri berusia 12-15 tahun dan sudah mengalami menstruasi. Status gizi diukur menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dikategorikan sebagai gizi kurang, gizi baik, gizi lebih, dan obesitas, sementara PHBS dikategorikan sebagai baik, cukup, dan kurang. Data dianalisis menggunakan uji univariat dan bivariat dengan menggunakan uji uji korelasi <em>rank spearman</em>. Hasil penelitian menunjukan sebanyak 17% remaja puteri dengan status gizi baik menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat yang baik, sedangkan 21% remaja puteri dengan status gizi cukup menunjukkan perilaku hidup sehat yang cukup. Sementara itu, remaja puteri dengan perilaku hidup sehat kurang menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi pada kategori gizi kurang 7% dan Obesitas 8%. Uji statistik diperoleh nilai p = 0,009 yang menunjukkan hubungan signifikan antara PHBS dan status gizi. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan PHBS untuk meningkatkan status gizi dan mencegah masalah gizi lebih pada remaja puteri.</p> <p><strong>Kata kunci: Status_gizi, Remaja, PHBS, Kesehatan</strong></p>Sugirah Rahman
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279226126510.23960/jkunila.v9i2.pp261-265Mikroplastik pada Manusia: Rute Paparan, Mekanisme Toksikologi, dan Risiko Kesehatan
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3731
<p>Mikroplastik merupakan kontaminan lingkungan yang telah terdeteksi di berbagai sistem biologis manusia, menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko kesehatan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rute paparan, mekanisme toksikologi, dan dampak kesehatan mikroplastik pada manusia melalui studi literatur. Metode penelitian menggunakan pencarian literatur melalui basis data PubMed, Scopus, Web of Science, dan ScienceDirect untuk publikasi tahun 2020–2025 dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan manusia terpapar mikroplastik melalui tiga jalur utama: inhalasi, ingesti, dan kontak dermal, dengan partikel mampu menembus penghalang biologis dan terakumulasi di berbagai organ termasuk paru-paru, jantung, usus, plasenta, dan organ reproduksi. Mekanisme toksisitas mencakup stres oksidatif, peradangan kronis, gangguan fungsi organ, serta potensi transfer lintas generasi melalui plasenta dan air susu ibu. Kesimpulannya, bukti menunjukkan risiko kesehatan multiorgan yang signifikan dari paparan mikroplastik, meskipun pemahaman dampak spesifik pada manusia masih fragmentaris dan memerlukan penelitian sistematis lebih lanjut.</p>M Aditya Permana
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279227328310.23960/jkunila.v9i2.pp273-283Fasilitasi Pembelajaran Kelas Besar di Pendidikan Kedokteran Tingkat Sarjana
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3733
<p>Perkembangan pendidikan kedokteran dan peningkatan kebutuhan tenaga kesehatan menyebabkan semakin meningkatnya jumlah mahasiswa kedokteran. Pertambahan jumlah mahasiswa menyebabkan pembelajaran kelas besar menjadi pilihan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kelas besar memilki tantangan dalam hal keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran dan pemberian umpan balik serta penerapan <em>student centered learning</em>. Dalam proses pembelajaran kelas besar, dosen bukan hanya penyampai informasi namun fasilitator pengalaman belajar bagi mahasiswa. Strategi pembelajaran aktif, kolaboratif dalam fasilitasi kelas besar yang dapat menjadi alternatif diantaranya adalah <em>team-based learning</em>, <em>flipped classroom</em>, <em>case-based learning</em>, <em>jigsaw technique</em> dan <em>project-based learning</em>. Integrasi teknologi seperti penggunaan <em>audience response system</em> Mentimeter, dan Kahoot! dalam berbagai strategi ini meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran dan memberi kesempatan untuk melakukan evaluasi dan pemberian umpan balik. Kesiapan dosen untuk merancang desain instruksional yang sesuai dan menggunakan teknologi, kesiapan mahasiswa untuk belajar mandiri dan turut berpartisipasi, serta kesiapan institusi untuk mendukung sarana prasarana dan manajemen sumber daya manusia merupakan faktor yang memiliki peran dalam mendukung keberhasilan fasilitasi kelas besar. Penerapan segera fasilitasi pembelajaran kelas besar yang mendukung <em>student-centered learning</em> ini dengan menggunaan desain terstruktur yang jelas dapat meningkatkan peran aktif mahasiswa dan keberhasilan pembelajaran mahasiswa</p>Merry Indah SariDian Isti Angraini
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279228829210.23960/jkunila.v9i2.pp288-292The Association of Nutritional Status and Body Composition with Cardiorespiratory Fitness: A Literature Review
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3735
<p>Cardiorespiratory fitness is influenced by multiple factors, including nutritional status and body composition, which determine the body’s ability to sustain physical activity. This literature review aims to analyze the relationship between nutritional status, body composition, and cardiorespiratory fitness based on studies published between 2015 and 2025. The findings show that excessive nutritional status, particularly obesity, increases physical load and reduces movement efficiency, leading to lower cardiorespiratory fitness. Obesity is also associated with low-grade inflammation that negatively affects muscle function and circulation. Conversely, undernutrition contributes to reduced fitness due to low muscle mass and limited energy reserves. Body composition is a key determinant, as high body fat—especially visceral fat—is consistently linked to poor cardiorespiratory fitness, whereas adequate muscle mass supports efficient oxygen use and better endurance. Overall, the highest levels of cardiorespiratory fitness are observed in individuals with normal nutritional status, low body fat, and optimal muscle mass. These findings highlight the importance of maintaining optimal nutritional status and body composition as essential strategies for improving health and fitness.</p>Ramadhana Komala
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279229329710.23960/jkunila.v9i2.pp293-297The Relationship of Mean Arterial Pressure Variability to Hematuria and Microalbuminuria in Hypertensive Patients at Abdul Moeloek Regional Hospital, Lampung
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3748
<p style="font-weight: 400;">Hypertension is a major risk factor for progressive cardiovascular and chronic kidney disease. Kidney complications from hypertension are characterized not only by a decrease in the glomerular filtration rate but also by the appearance of early kidney damage markers such as hematuria and microalbuminuria. One important factor influencing kidney damage in hypertensive patients is blood pressure variability, particularly Mean Arterial Pressure (MAP), which reflects the perfusion pressure of vital organs, including the kidneys.</p> <p style="font-weight: 400;">This was an observational analysis study with a cross-sectional approach using secondary data in the form of a review of medical records collected from January to December 2024 at Abdul Moeloek Regional Hospital. Sampling was conducted using a purposive sampling technique, with 35 participants meeting the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using the Chi-square test and bivariate analysis.</p> <p style="font-weight: 400;">The results of this study indicate a relationship mean arterial pressure variability to hematuria (p=0.004) and microalbuminuria (p=0.003) in hypertensive patients at Abdul Moeloek Regional Hospital. Abdul Moeloek, Lampung</p>Nurul IslamyAde YonataAde Yonata
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279230430910.23960/jkunila.v9i2.pp304-309Orbital Apex Syndrome in an Uncontrolled Diabetes Mellitus Patient: Case Report
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3654
<p><strong>Introduction</strong>: Orbital apex syndrome (OAS) is a complex neurological disorder characterized by a constellation of multiple dysfunctions of cranial nerves II, III, IV, V1, and VI, typically resulting from pathologies affecting adjacent structures, such as the orbit and paranasal sinuses. Early recognition and appropriate treatment are essential due to its potentially rapid progression and risk of permanent vision loss.</p> <p><strong>Case Report</strong>: A 63-year-old male with uncontrolled diabetes mellitus, hypertension, and gout arthritis who presented with left periorbital pain, swelling, redness, followed by vision loss and ophthalmoplegia. Clinical examination showed no light perception, severe ptosis, proptosis, decreased corneal sensation, and a relative afferent pupillary defect (RAPD) in the left eye. Laboratory investigations showed leukocytosis and an elevated HbA1c (12%). A brain CT scan demonstrated opacification of the left ethmoid and sphenoid sinuses and enhancement at the left orbital apex. Based on clinical, radiologic, and laboratory findings, the patient was diagnosed with orbital apex syndrome secondary to ethmoid and sphenoid sinusitis.</p> <p><strong>Discussion</strong>: The clinical presentation and imaging findings indicated orbital apex syndrome resulting from the contiguous spread of bacterial sinusitis in an immunocompromised host, such as those with uncontrolled diabetes. Uncontrolled diabetes likely contributed to the rapid progression. Early diagnosis and identification of the underlying causes are essential for initiating targeted therapy, including antibiotics and supportive care.</p> <p><strong>Conclusion</strong>: OAS secondary to sinusitis should be considered in patients presenting with painful ophthalmoplegia and visual impairment, particularly those with poorly controlled diabetes. Early recognition and intervention are crucial for improving outcomes.</p> <p><strong>Keyword</strong>: orbital apex syndrome, ophthalmoplegia, sinusitis, cranial neuropathy, vision loss</p>Astriani Rahayu
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279212212610.23960/jkunila.v9i2.pp122-126Manajemen Penyakit Kardiovaskular pada Populasi Octogenarian: Tinjauan Sistematis
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3681
<p>Peningkatan angka harapan hidup global telah memperbesar populasi usia ≥80 tahun (octogenarian), yang memiliki prevalensi penyakit kardiovaskular (CVD) tertinggi dan tantangan klinis tersendiri. Kondisi ini berdampak pada efektivitas dan keamanan berbagai strategi terapi pada kelompok usia ini. Tinjauan sistematis ini bertujuan meninjau bukti terbaru mengenai manajemen CVD pada populasi octogenarian, mencakup efektivitas, keamanan, dan luaran klinis berbagai intervensi. Pencarian dilakukan dengan kata kunci ("cardiovascular disease" OR "CVD" OR "heart disease") AND ("management" OR "treatment" OR "therapy" OR "intervention") AND ("octogenarians" OR "≥80 years") pada PubMed dan Scopus untuk artikel berbahasa Inggris tahun 2022–2025. Inklusi ditetapkan dengan kerangka PICO (P: pasien ≥ 80 tahun (octogenarians) dengan CVD; I: strategi manajemen CVD; C: pasien usia lebih muda atau metode intervensi lain; O: efektivitas dan luaran klinis). Artikel dikeluarkan bila akses terbatas atau duplikasi. Dari 484 artikel yang terkumpul, 54 dieliminasi karena pengulangan, 43 bukan artikel original, 360 tidak sesuai PICO, dan 5 memiliki akses terbatas. Dari 22 studi yang dianalisis, diketahui bahwa berbagai strategi manajemen kardiovaskular, baik farmakologis maupun intervensi, umumnya tetap efektif dan aman pada pasien octogenarian bila dilakukan dengan seleksi pasien dan pemantauan yang tepat. Terapi seperti SGLT2 inhibitor, CRT, NOAC, AVR/TAVR, PCI, serta reperfusi terbukti memberikan manfaat klinis bermakna, meskipun risiko komplikasi meningkat pada kondisi tertentu. Manajemen penyakit kardiovaskular pada octogenarian dapat tetap efektif dan aman dengan strategi terapi yang disesuaikan dengan kondisi fungsional, komorbiditas, dan risiko komplikasi pasien. Hal ini menekankan pentingnya pendekatan individual berbasis bukti dalam populasi usia lanjut.</p>Sidhi LaksonoWella Widyani
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279213314110.23960/jkunila.v9i2.pp133-141PEMERIKSAAN PENUNJANG UNTUK PENEGAKAN DIAGNOSIS DAN EVALUASI PENGOBATAN EMPIEMA PARU
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3702
<p>Empiema paru merupakan komplikasi yang disebabkan oleh infeksi pleura yang ditandai oleh akumulasi pus akibat proses inflamasi dan respon imun kompleks. Dalam praktik klinis, pemeriksaan biomarker memiliki peran penting dalam membantu diagnosis dini, menentukan tingkat keparahan, serta memantau respons terapi pasien. Biomarker klasik seperti <em>C-reactive protein</em> (CRP), <em>procalcitonin</em> (PCT), dan <em>lactate dehydrogenase</em> (LDH) memiliki nilai diagnostik tinggi dalam membedakan efusi parapneumonik sederhana dan kompleks. Parameter cairan pleura seperti kadar glukosa rendah dan pH <7,2 menandakan aktivitas infeksi aktif yang memerlukan intervensi. Selain itu, biomarker modern seperti <em>presepsin</em> (sCD14-subtype) menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap infeksi bakteri pleura, sedangkan <em>pentraxin-3</em> (PTX-3), <em>calprotectin</em>, dan <em>neutrophil gelatinase-associated lipocalin</em> (NGAL) menggambarkan aktivitas inflamasi dan kerusakan jaringan pada tingkat lokal. Sitokin proinflamasi seperti <em>interleukin-6</em> (IL-6), <em>interleukin-8</em> (IL-8), <em>tumor necrosis factor-alpha</em> (TNF-α), serta enzim <em>matrix metalloproteinase</em> (MMP) turut berperan dalam meningkatkan permeabilitas pleura dan pembentukan pus. Kombinasi antara analisis biomarker sistemik dan lokal dengan temuan klinis dan radiologis meningkatkan akurasi diagnosis, membantu pemilihan terapi yang tepat, serta memberikan penilaian prognosis yang lebih baik. Dengan demikian, pendekatan multimarker yang melibatkan CRP, PCT, presepsin, PTX-3, calprotectin, NGAL, dan mediator inflamasi lain dapat mendukung tata laksana Empiema paru secara lebih individual, komprehensif, dan berbasis bukti ilmiah</p>Syazili Mustofa
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279214214810.23960/jkunila.v9i2.pp142-148Hubungan Kecemasan dengan Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Petani
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3705
<p><em>Gastroesophageal Reflux Disease</em> (GERD) masih menjadi masalah di dunia dan Indonesia yang dapat disebabkan faktor psikologis. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan kecemasan dengan kejadian GERD pada petani. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Lokasi penelitian di Desa Marga Agung Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan bulan April-Mei 2025. Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh masyarakat di Desa Marga Agung, pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kecemasan dan variabel dependennya adalah kejadian GERD. Alat pengumpul data dalam penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data dengan menyajikan persentase dan uji yang digunakan adalah Chi-Square. Sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan dan sama dalam proporsi antara tidak dan mengalami GERD. Sebagian besar responden yang tidak GERD adalah responden dengan tidak mengalami kecemasan dan sebagian besar responden yang mengalami GERD adalah responden yang mengalami kecemasan. Tidak ada hubungan antara kecemasan dengan kejadian GERD pada petani.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci</strong>: GERD, kecemasan, petani.</p>suharmantoarman suharmanto
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279215515910.23960/jkunila.v9i2.pp155-159MicroRNA sebagai Regulator Regenerasi Jaringan: Tinjauan Literatur
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3707
<p>Regenerasi jaringan berlangsung melalui rangkaian proses terkoordinasi yang bertujuan mengembalikan fungsi organ. Proses ini bergantung pada pembentukan sel baru, migrasi, regulasi inflamasi, dan penataan ulang matriks. <em>MicroRNA </em>berperan sebagai regulator yang memengaruhi berbagai tahap dalam regenerasi jaringan melalui regulasi ekspresi gen. Tinjauan ini merangkum temuan ilmiah terkait peran<em> microRNA</em> dalam tahap regeneratif dengan menyoroti pengaruhnya pada jalur molekuler. miR-21, miR-221 dan miR-31 berperan dalam peningkatan proliferasi serta migrasi keratinosit melalui penekanan inhibitor sinyal. miR-200b/c-3p diketahui dapat mengatur plastisitas epitelial yang membantu pemulihan lapisan permukaan. Pada fase inflamasi, miR-155 memicu produksi mediator pro-inflamasi, sedangkan miR-146a, miR-223, dan miR-124 menurunkan aktivasi sel imun untuk menjaga kestabilan respon. Keseimbangan inflamasi menjadi faktor penting karena kelebihan mediator pro-inflamasi dapat menghambat tahap regeneratif berikutnya. Pada fase remodeling, kelompok miR-29, miR-27a-3p, miR-133a, miR-30a, dan miR-142-3p menekan aktivasi fibroblas serta deposisi kolagen sehingga pembentukan jaringan parut lebih rendah dan struktur jaringan baru tersusun lebih teratur. Berbagai temuan menunjukkan bahwa <em>microRNA</em> meregulasi beberapa tahap penting dalam proses regenerasi jaringan melalui jalur molekuler yang saling berhubungan. Peran luas tersebut dapat menjadi dasar untuk pengembangan biomarker dan strategi terapetik yang menarget <em>microRNA</em> guna mendukung hasil regenerasi yang lebih baik.</p>Zahara Nurfatihah Z
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279216516910.23960/jkunila.v9i2.pp165-169Peran Gizi dalam Mencegah Stunting dan Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Menuju Bonus Demografi di Indonesia
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3709
<p> </p> <p>Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat berdampak langsung pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, serta berpotensi menghambat pencapaian kualitas sumber daya manusia yang unggul di Indonesia. Kondisi ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) meliputi masa kehamilan hingga usia dua tahun, yang mengarah pada gangguan pertumbuhan linear dan perkembangan otak yang tidak optimal. Stunting tidak hanya mempengaruhi tinggi badan, tetapi juga berimplikasi pada penurunan kemampuan kognitif, prestasi belajar, serta peningkatan risiko penyakit tidak menular di usia dewasa. Intervensi gizi yang tepat, seperti pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI (MP-ASI) bergizi, serta suplementasi zat besi, asam folat, dan mikronutrien lainnya, sangat penting dalam pencegahan stunting dan peningkatan kecerdasan anak. Penurunan prevalensi stunting yang signifikan membutuhkan pendekatan multisektoral yang melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, keluarga, dan pemberdayaan masyarakat. Program yang mengintegrasikan stimulasi kognitif dengan asupan gizi yang adekuat terbukti efektif dalam meningkatkan perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak. Kajian ini bertujuan untuk mengulas dan menelaah berbagai temuan ilmiah mengenai peran gizi dalam pencegahan stunting sekaligus kontribusinya dalam meningkatkan kecerdasan anak. Dengan memahami temuan yang ada diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan intervensi gizi yang tepat guna mengatasi masalah stunting dan mendukung kualitas sumber daya manusia sejak usia dini di Indonesia.</p> <p><strong>Kata kunci: Stunting, Gizi, Anak,Kognitif, Kesehatan.</strong></p>Sugirah Rahman
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279217819310.23960/jkunila.v9i2.pp178-193Adaptasi Fisiologi Kardiometabolik Pada Pola Aktivitas Weekend Warrior: Literature Review Bukti Mekanistik Dan Respon Organ-Sistem (2023-2025)
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3711
<p>Pola aktivitas fisik <em>weekend warrior</em> yang merupakan pemenuhan ≥150 menit <em>moderate to vigorous physical activity</em> (MVPA) dalam satu hingga dua sesi perminggu, menjadi strategi popular bagi populasi dewasa muda pekerja kantoran dengan keterbatasan waktu. Literature review ini mengevaluasi bukti tahun 2023-2025 mengenai adaptasi fisiologi kardiometabolik dan respon organ-sistem pada pola weekend warrior. Pencarian basis data dilakukan menggunakan <em>PubMed, Scopus, Web of Science, dan ScienceDirect</em> dengan ditemukan 21 studi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa pola weekend warrior memberikan penurunan signifikanpada risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, penyakir ginjal kronis, dan gangguan neurologis jika total MVPA tercapai. Uji intervensi melaporkan peningkatan VO<sub>2</sub>max yang tidak inferior dibanding latihan frekuensi tinggi, ini menunjukkan bahwa stimulus aerobic terfokus sudah cukup untuk memicu adaptasi kardiorespirasi. Bukti mekanistik mengindikasikan potensi aktivitas jalur AMPK-PGC-1α, perbaikan fungsi endotel, dan peningkatan kualitas mitokondria, meskipun studi eksperimental khusus <em>weekend warrior</em> masih terbatas. Respon biomarker metabolik lebih bervariasi, dengan hasil yang cenderung lebih stabil pada pola aktivitas terdistribusi. Secara keseluruhan, pola <em>weekend warrior</em> merupakan strategi efektif dan realistis untuk pekerja kantoran Indonesia, namun penelitian intervensi jangka Panjang diperlukan untuk memperjelas mekanisme spesifik organ dan dosis optimal untuk pola aktivitas fisik pada akhir pekan.</p>Shellya Puti Sudesty
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279219120210.23960/jkunila.v9i2.pp191-202Hubungan Motivasi, Efikasi Diri dan Kondisi Psikologis Dengan Kepatuhan Diet Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3714
<p><strong><em>ABSTRACT </em></strong></p> <p><em>The prevalence of diabetes mellitus has increased over time. Patient compliance in taking medication and meal planning (diet) plays a very important role in the success of treatment and controlling blood glucose. The study aims was to determine the association between motivation, self-efficacy and psychological conditions with diet compliance in patients with type 2 diabetes mellitus. This study is an analytical observational study with a cross-sectional approach and conducted from April to October 2023. The research sample was 95 diabetes mellitus type 2 patients in the work area of the Kalirejo Pesawaran Lampung Health Center. The sample was taken using a purposive sampling technique that met the inclusion and exclusion criteria. Data on motivation, self-efficacy and psychological conditions were taken using a validated questionnaire, and data on diet compliance was assessed by comparing food intake with the nutritional needs of patients with type 2 diabetes mellitus based on the 2x24h food recall questionnaire. Data were analyzed using chi square. The results showed that non-compliance diet in patients with type 2 diabetes mellitus was 80%. Motivation, self-efficacy and psychological condition are associated to diet compliance in diabetes mellitus patients (p=0.026; p=0.019; p=<0.001). Compliance with diet in type 2 diabetes mellitus patients is very necessary in controlling blood sugar in order to prevent complications. Motivation, self-efficacy and psychological condition of patients play an important role in diet compliance in type 2 diabetes mellitus patients.</em></p>Dian Isti AngrainiTutik ErnawatiMerry Indah SariHarmaina
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279220821310.23960/jkunila.v9i2.pp208-213Potensi Kandungan Batang Pisang (Musa paradisiaca) sebagai Anti-Diabetik: Sebuah Tinjauan Pustaka
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3716
<p><strong> ABSTRAK</strong></p> <p>Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi insulin, resistensi insulin, atau kombinasi keduanya. Peningkatan jumlah kasus diabetes di Indonesia berdampak pada meningkatnya penggunaan obat antidiabetes, yang secara tidak langsung turut meningkatkan risiko terjadinya efek samping, terutama pada pasien lanjut usia. Berbagai golongan obat seperti <em>metformin, sulfonilurea, inhibitor alfa-glukosidase, tiazolidindion</em>, serta agonis GLP-1 sering digunakan sebagai terapi lini utama, namun telah dilaporkan menimbulkan efek samping mulai dari mual, diare, hipoglikemia, penambahan berat badan, hingga gangguan fungsi organ tertentu. Kondisi tersebut menjadi alasan perlunya dilakukan peninjauan kembali terhadap keamanan terapi farmakologis jangka panjang dan pentingnya eksplorasi alternatif pengobatan yang lebih aman.</p> <p>Salah satu sumber bioaktif alami yang berpotensi dikembangkan adalah batang pisang (<em>Musa paradisiaca</em> L.). Bagian tanaman ini diketahui mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid, steroid, dan kuinon. Senyawa tersebut memiliki aktivitas antioksidan dan kemampuan memperbaiki fungsi sel β pankreas melalui mekanisme perlindungan terhadap kerusakan oksidatif. Flavonoid juga diketahui dapat menghambat enzim α-glukosidase, sehingga mampu mengurangi penyerapan glukosa di usus dan menurunkan kadar glukosa postprandial. Dengan kombinasi efek biologis tersebut, batang pisang memiliki potensi yang signifikan sebagai sumber bahan aktif antidiabetes. Kajian ini bertujuan menyoroti keterbatasan terapi farmakologis serta potensi pemanfaatan batang pisang sebagai alternatif terapi nonfarmakologis yang lebih aman, efektif, dan berpotensi mendukung pengembangan obat antidiabetes berbasis herbal.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Diabetes melitus, Terapi Non Farmakologis, Tanaman Terbal, Aktivitas Antidiabetik</p>Andriansyah Andri
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279221922410.23960/jkunila.v9i2.pp219-224Interaksi Mikrobiota dan Otak Melalui Vagus, Sistem Imun, dan Metabolik
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3719
<p>Interaksi antara microbiota di usus dan sistem saraf pusat atau sering di sebut <em>gut brain axis</em> melibatkan jalur saraf vagus, sistem imun mukosa dan sinyal metabolik mikroba. Tinjauan ini merangkum mekanisme dan bukti fisiologis pada manusia mengenai bagaimana ketiga jalur tersebut saling bekerja sama untuk memengaruhi fungsi kognitif, integrasi neurobiologis dan adektif. Hasil metabolit utama dari microbiota usus terdiri dari <em>Short Chain Fatty Acid</em> (SFCA), asam empedu sekunder, dan turunan triptofan yang nantinya dapat masuk kedalam sirkulasi dan memodulasi fungsi dari epitel, jalur saraf aferen, dan respon imun. Saraf vagus memiliki peran sebagai rute cepat untuk mentransmisikan sinyal mekanosensorik dan kimiawi dari mukosa menuju pusat otak. Sedangkan imun mukosa seperti GALT, sel dendritic, IgA, dan sitokin akan menerjemahkan perubahan komposisi mikroba menjadi sinyal sistematik yang dapat mempengaruhi mikroglia dan <em>blood brain barrier</em>. Sumber literatur yang dianalisis di dalam tinjauan ini berasal dari jurnal terindeks scopus dengan rentang tahun 2017-2025. Bukti pra-klinis dan beberapa laporan awal klinis menunjukkan adanya potensi intervensi untuk memodulasi jalur tersebut, namunbukti klinis yang terstandar masih terbatas.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Imun mukosa, Metabolit Mikroba, Mikrobiota usus, Saraf Vagus</p>Ayu Tiara FItri
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279222523110.23960/jkunila.v9i2.pp225-231Demam Berdarah Dengue dengan Warning Sign pada Anak Perempuan 7 Tahun dengan Gizi Kurang : Laporan Kasus
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3721
<p>Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Setelah penurunan kasus selama pandemi COVID-19, terjadi peningkatan kembali melonjak tajam jumlah kasus DBD pada tahun 2024, termasuk di Provinsi Lampung. Dalam<strong> </strong>laporan kasus ini, anak perempuan usia 7 tahun dengan demam hari ke-5 disertai mimisan, nyeri perut, petekie, dan edema palpebra. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukopenia, trombositopenia, dan peningkatan hematokrit. Pemeriksaan serologi dengue IgM dan IgG menunjukkan hasil positif. Pemeriksaan radiologis menunjukkan efusi pleura. Sehingga, pasien di diagnosis DBD dengan <em>warning sign.</em> Deteksi dini terhadap DBD dengan <em>warning sign</em> serta pemberian cairan sesuai kebutuhan sangat penting dalam mencegah komplikasi. Pemeriksaan laboratorium dan serologi mendukung diagnosis, sedangkan pemantauan klinis berperan dalam menentukan penatalaksanaan selanjutnya.</p> <p><strong>Kata kunci</strong> : Anak, Demam Berdarah Dengue, <em>Warning sign</em></p>Tias Adhesdr Oktadoni Saputra, Sp.A
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279223824210.23960/jkunila.v9i2.pp238-242GASTROINTESTINAL STROMAL TUMOR (GIST) GASTER STADIUM LANJUT DENGAN INFILTRASI ORGAN SEKITAR DAN METASTASIS HEPAR: PENATALAKSANAAN BEDAH RADIKAL MULTIORGAN
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3727
<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Latar Belakang: Gastrointestinal stromal tumor (GIST) merupakan tumor mesenkimal paling umum di saluran cerna, dengan insidensi tertinggi pada lambung. Terapi standard untuk GIST metastasis atau tidak resectable adalah imatinib mesylate sebagai tyrosine kinase inhibitor (TKI). Namun, resistensi primer atau sekunder terhadap imatinib masih menjadi tantangan, terutama pada GIST lanjut dengan infiltrasi organ dan metastasis hepar. Tujuan: Melaporkan penatalaksanaan kasus GIST gaster lanjut yang menunjukkan progresivitas klinis dan radiologis meskipun telah diberikan terapi imatinib maksimal, serta upaya kontrol local melalui tindakan pembedahan radikal multiorgan. Deskripsi Kasus: Seorang perempuan usia 64 tahun dating dengan hematemesis dan melena, disertai massa abdomen dan gejala anemia berat. Riwayat menunjukkan GIST gaster yang telah diterapi dengan imatinib 400 mg/hariselama 6 bulan, dilanjutkan 800 mg/hari karena progresivitas penyakit. CT scan menunjukkan massa besar pada curvature mayor gaster dengan infiltrasi ke limpa, distal pankreas, kolon transversum, serta metastasis kehepar segmen 2 dan 3. Dilakukan total gastrektomi, distal pankreatektomi, splenektomi, hemikolektomi kiri, dan segmental hepatektomi, disertai rekonstruksi esophago jejunostomi J-pouch Roux-en-Y. Kesimpulan: Tindakan pembedahan radikal pada kasus GIST lanjut dengan progresi terapi TKI dapat dipertimbangkan sebagai upaya control lokal, terutama pada kasus dengan gejala perdarahan aktif atau kompresi organ. Penanganan GIST lanjut memerlukan pendekatan multidisiplin dan rencana terapi sistemik lanjutan berbasis profil molekular.</p> <p>Kata kunci: GIST, imatinib, resistensi, metastasis hepar, operasi multiorgan, J-pouch.</p>Risal Wintoko
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279225626010.23960/jkunila.v9i2.pp256-260Literature Review: Peran Aseptik dan Antiseptik Dalam Pencegahan Infeksi Daerah Operasi
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3730
<p style="font-weight: 400;">Prinsip septik dan antiseptik merupakan landasan penting dalam praktik kedokteran yang bertujuan untuk melindungi pasien dari infeksi terkait pelayanan kesehatan. Meskipun demikian, kepatuhan terhadap prinsip-prinsip ini tetap menjadi tantangan global yang signifikan. Tinjauan pustaka ini menyintesis dan menganalisis bukti-bukti ilmiah untuk menegaskan kembali peran krusial dari praktik aseptik dan antiseptik. Analisis menunjukkan bahwa kebersihan tangan adalah intervensi tunggal yang paling efektif dan hemat biaya dalam mencegah transmisi patogen, meskipun kepatuhan yang rendah masih menjadi masalah yang persisten. Kegagalan dalam sterilisasi peralatan dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tidak tepat terbukti menyebabkan berbagai kerugian, termasuk wabah infeksi dan kerugian hukum yang besar. Lebih jauh lagi, ketidakpatuhan menimbulkan beban klinis dan ekonomi yang sangat besar, yang dimanifestasikan oleh peningkatan morbiditas, mortalitas, perpanjangan masa rawat inap, dan biaya perawatan yang membengkak. Pada akhirnya, disimpulkan bahwa praktik aseptik dan antiseptik bukan sekadar prosedur teknis, melainkan pilar esensial dalam membangun budaya keselamatan pasien yang kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan komitmen berlapis dari praktisi klinis, manajemen fasilitas kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk memastikan implementasi yang ketat dan mengatasi tantangan yang ada.</p> <p style="font-weight: 400;"> </p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kata Kunci</strong>: Aseptik, Antiseptik, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (HAIs), Kebersihan Tangan, Infeksi Daerah Operasi (IDO), Budaya Keselamatan Pasien.</p>Nanda Fitri Wardani
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279226627210.23960/jkunila.v9i2.pp266-272Peran Umur dan Tingkat Pendidikan sebagai Determinan Kanker Serviks pada Wanita Usia Subur
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3732
<p>Kanker serviks merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan dan masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Berbagai faktor risiko telah diidentifikasi, termasuk umur dan tingkat pendidikan yang berperan dalam kerentanan terhadap infeksi HPV dan keterlambatan deteksi dini. Penelitian ini bertujuan menganalis hubungan umur dan tingkat pendidikan terhadap kejadian kanker serviks pada wanita usia subur di RSUD Abdul Moeloek.</p> <p>Penelitian menggunakan desain <em>case-control</em> dengan jumlah sampel 112 responden (56 kasus dan 56 kontrol). Data dikumpulkan melalui kuesioner dan rekam medis, kemudian dianalisis secara bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa umur berisiko (<20 atau >35 tahun) berhubungan signifikan dengan kanker serviks (p=0,007; OR=0,19; CI95% 0,06–0,62). Pendidikan rendah juga berhubungan signifikan (p=0,035; OR=0,25; CI95% 0,077–0,837). Kedua variabel tetap signifikan pada analisis multivariat setelah dikontrol dengan variabel lain.</p> <p>Kesimpulannya, umur berisiko dan pendidikan rendah merupakan determinan penting kanker serviks pada wanita usia subur. Peningkatan edukasi, promosi kesehatan, dan pemerataan akses skrining IVA/Pap Smear di kelompok rentan sangat diperlukan.</p>suryani daulay
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279228328810.23960/jkunila.v9i2.pp283-288Literature Review: Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pada Perawat sebagai Upaya Universal Precaution
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3743
<p style="font-weight: 400;">Kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan elemen penting dalam universal precautions untuk mencegah paparan infeksi dan melindungi perawat di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kepatuhan perawat terhadap penggunaan APD serta faktor-faktor yang memengaruhinya berdasarkan tinjauan literatur terbaru. Melalui penelusuran artikel menggunakan pendekatan PRISMA, lima studi yang memenuhi kriteria inklusi menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan perawat berada pada kisaran 56,1% hingga 91,7%. Faktor internal yang memengaruhi kepatuhan meliputi pengetahuan, sikap, dan kompetensi, sedangkan faktor eksternal mencakup ketersediaan APD, penerapan standar operasional prosedur, pengawasan, dan dukungan dari program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Ketersediaan sarana dan fasilitas tercatat sebagai determinan paling dominan dalam meningkatkan kepatuhan. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kepatuhan penggunaan APD membutuhkan pendekatan multidimensional melalui penyediaan APD yang memadai, pelatihan berkelanjutan, dan penguatan budaya keselamatan demi meminimalkan risiko infeksi okupasional pada perawat.</p>Michelle Safna AndariFitria SaftarinaMuhammad MaulanaWinda Trijayanthi Utama
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-272025-12-279229730510.23960/jkunila.v9i2.pp297-305PERCUTANEOUS TRANSLUMINAL ANGIOPLASTY IN CHRONIC KIDNEY DISEASE PATIENTS WITH CENTRAL VEIN STENOSIS POST HEMODIALYSIS CATHETER IMPLANTATION
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3725
<p>Background. The use of central venous catheters as temporary vascular access is found in 20% of CKD patients undergoing routine hemodialysis. Apart from having benefits, the use of a central venous catheter also has risks. One of the complications of using a central venous catheter is central venous stenosis. Central vein stenosis is associated with the placement of a subclavian catheter as a hemodialysis access.</p> <p>Case Report. Three cases of central venous stenosis after placement of a hemodialysis catheter in the subclavian vein were reported. Complaints of swelling on the side where the hemodialysis catheter is inserted are felt 1-2 months after removing the hemodialysis catheter. Apart from that, a complaint that often arises is that there are obstacles to the flow during the hemodialysis process. The subclavian vein is a common site for hemodialysis catheter implantation, but the incidence of central vein stenosis is consistent with these three patient cases. Doppler ultrasonography is the initial examination and is important for detecting central vein stenosis even though it cannot make a definitive diagnosis. Venography and Digital Subtraction Angiography examinations are the gold standard examinations for confirming central vein stenosis. These three patients were found to have stenosis and total occlusion of the central vein. The patient underwent percutaneous transluminal angioplasty but the vein patency was still low so a stent was placed. To prevent intrastent stenosis, antiplatelets are given for life. The patient underwent an evaluation after stent installation and found clinical improvement in the form of reduced swelling.</p> <p>Conclusion. Central venous stenosis that occurs in patients with chronic kidney disease due to complications after installing temporary access for hemodialysis using a central venous catheter is effective for percutaneous transluminal angioplasty and stent installation.</p>iswandi darwishariadi hariawanmuhammad taufik ismail
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-312025-12-319233434610.23960/jkunila.v9i2.pp334-346The Effectiveness of Chicken Liver Sausage Consumption on Increasing Hemoglobin and Iron Levels in Anemic Adolescent Girls in High School
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/article/view/3734
<p>Anemia in adolescent girls remains a public health problem in Indonesia. Low iron intake is a major contributing factor to anemia, while iron supplementation programs are not optimal due to low compliance. Chicken liver is a source of heme iron with high bioavailability, and sausage is a popular food product among adolescents. The purpose of this study was to assess the effectiveness of consuming selected formula chicken liver sausage on increasing hemoglobin and iron levels in anemic adolescent girls. This study used a quasi-experimental design with a pre-post test control group design conducted on 30 anemic female students divided into an intervention group (n=15) and a control group (n=14). The intervention group was given formula F6 chicken liver sausage for four weeks. Hemoglobin (Hb) and iron (Fe) levels were measured before and after the intervention. Analysis was performed using paired t-tests, Wilcoxon, and independent t-tests. The results showed a significant increase in Fe levels in the intervention group (Z = -2.272; p = 0.023), while the control group showed no significant changes (p = 0.272). Hb levels increased significantly in the control group (p = 0.002) but not in the intervention group (p = 0.057). Intergroup tests showed a significant difference in ΔFe (p = 0.026) but not in ΔHb (p = 0.308). Consumption of F6 formula chicken liver sausage effectively increased iron levels but did not significantly increase hemoglobin levels within the four weeks of intervention.</p>Reni ZuraidaDian Isti AngrainiAndi Eka YuniantoTutik ErnawatyMeiyanti MeiyantiRisda Yana
Copyright (c) 2025 Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
2025-12-302025-12-309232933310.23960/jkunila.v9i2.pp329-333